Merujuk Tokyo Marathon: Magnet Lomba Lari WMM di Asia
- Istimewa
Dengan akses kendaraan yang mudah, para peserta dan pengunjung telah menetapkan rencana mengunjungi sejumlah kota setelah lomba. Deni pun meneruskan perjalanannya lepas dari Tokyo Marathon, ke Fujikawaguchiko, Osaka dan menghabiskan waktu empat malam di Sapporo, Hokaido. Demikian pula pelari lain yang dijumpai, antara lain Teddy Iskandar yang melanjutkan perjalanan ke Kyoto bersama istrinya.
Konsep sport tourism yang melekat pada Tokyo Marathon terbangun dengan sangat kuat. Tidak heran bila dampak ekonominya pun sangat signifikan. Angka terakhir yang terbit atas dampak ekonomi Tokyo Marathon 2024, mencatat pemasukan sebesar Rp 5.9 trilyun. Angka fantastis yang dicapai relatif dalam waktu sepekan saja.
Untuk mencapainya, tentu banyak hal yang harus diperhatikan dan melekat tumbuh bersama lomba lari yang diselenggarakan. Di antaranya infrastruktur kota yang sangat memadai, termasuk sistem transportasi yang efisien. Dukungan Kerjasama tata kota dan lembaganya, misalnya kepolisian, pemerintah kota dan berbagai unsur terkait, melekat pula sebagai satu sistem yang saling mengait. Keterlibatan masyarakat yang menjadi tim sorak, yang ternyata tidak hanya datang dari Tokyo, melainkan juga dari kota sekitar, misalnya Yokohama, Osaka, Kyoto dan lain-lain, meramaikan kota dan memberi semangat tulus pada pelari, menciptakan suasana yang ramah bagi pelari dan menjadi energi tersendiri.
Sudah tentu pada saat kegiatan jalan yang menjadi jalur lomba ditutup sama sekali dari kendaraan selama sekitar tujuh jam, sesuai jangka waktu pelari berada di racecourse. Hampir seluruh tepian jalan diberi pagar pembatas atau barikade untuk memaksimalkan sterilisasi jalur lomba. Ribuan petugas terlibat, yang masing-masing mengenakan parka atau vest berbeda warna sesuai dengan fungsi, menjadikan lomba ini benar-benar runners friendly. Para petugas yang disebut sebagai voluntainer, ini datang dari berbagai negara, “Syarat utamanya harus bisa berbahasa Jepang,” ujar Aji, salah satu petugas asal Indonesia yang titik kerjanya di area selepas finis. Aji sendiri tinggal dan bekerja di Tokyo dan tidak memiliki kendala bahasa, ia telah lancar berbahasa Jepang.
Akan tetapi tidak ada gading yang tak retak. Tokyo Marathon kali ini dikeluhkan sejumlah pelari akan kondisi pos minumnya. “Saya sampai menciduk air dengan tangan dari jar-nya,” ujar seorang peserta asal Liverpool. Ia yang sudah berlari WMM sebanyak tiga kali cukup kaget dengan hal itu. Apalagi Tokyo hari itu terasa relatif panas dengan temperatur cuaca saat lomba antara 10 hingga 22 derajat Celsius.
Load more