Siswi SMKN 2 Garut Menangis Usai Dipotong Rambutnya, Gubernur KDM Bingung Dengar Penjelasan Sekolah
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Viral di media sosial video sejumlah siswi di Garut menangis histeris usai rambutnya dipotong paksa oleh Guru BK hingga mendapat respons langsung dari Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi atau KDM.
Gubernur Jabar itu pun langsung merespons kabar viral tersebut dengan memanggil pihak sekolah terkait insiden pemotongan paksa rambut siswi SMKN 2 Garut itu.
Pasalnya, aksi pendisiplinan di lingkungan sekolah itu kembali memicu reaksi dan kritik dari publik.
Tak mau kasus berlarut-larut, Dedi Mulyadi lantas langsung menanyakan kepada pihak sekolah mengenai aksi pemotongan paksa rambut siswi.
Pemanggilan tersebut dilakukan KDM guna meminta klarifikasi pihak sekolah akibat polemik pendisiplinan yang menuai kritik dari masyarakat.
Dedi Mulyadi melontarkan pertanyaan mendasar mengenai prestasi dan perilaku siswi yang terkena razia pendisiplinan rambut.
"Suka masuk sekolah (siswi-nya?," tanya Dedi kepada pihak sekolah dilansir dari akun instagram @dedimulyadi71, Jumat (8/5/2026).
"Masuk," jawab guru tersebut.
"Tidak pernah bolos?," lanjut Dedi.
"Tidak," jawab guru itu.
Dedi pun kembali melontarkan sejumlah pertanyaan kepada pihak sekolah guna mengklarifikasi dasar peristiwa yang terjadi.
Ia turut menyinggung persoalan akademis dari para siswi yang terkena razia pendisiplinan sekolah berupa pemotongan rambut.
"Akademis bagus?," kembali Dedi Mulyadi melontarkan pertanyaan.
"Bagus," jawab guru.
Mendapati jawaban itu, Dedi Mulyadi pun lantas kebingungan alasan dasar Guru BK menghukum para siswi tersebut dengan memotong rambutnya.
KDM lantas meminta alasan utama sang Guru BK itu nekad memberi sanksi dengan memotong rambutnya hingga membuat para siswi menangis histeris.
"Terus yang jadi problem apa? Dia kan berperilaku baik, secara akademis tidak bermasalah, rajin, terus masalahnya apa?," ungkap KDM.
Tak dapat lagi berkilah, pihak sekolah melalui Guru BK pun perlahan membuka alasan utama melakukan sanksi pemotongan rambut tersebut.
Pihak sekolah mengaku adanya keresehan melihat terhadap penampilan para siswinya itu.
Pasalnya, para siswi memakai kosmetik yang dinilai tak wajar bagi pihak sekolah.
"Penampilan meresahkan," ungkap sang guru.
Mendengar pernyataan itu, Dedi Mulyadi justru semakin terbingung-bingung mengenai sanksi yang diberikan pihak sekolah.
Ia menyebut tak sepatutnya para siswi terkena sanksi pemotongan rambut yang ditengarai penggunaan kosmetik berlebihan.
"Oke kosmetiknya berlebihan, mungkin orang tuanya kaya.Gini argumentasinya apa sih, problemnya apa sih. Penampilan terlalu menor kan tinggal diingatkan," kata Dedi Mulyadi.
Selain itu, Dedi Mulyadi turut mempertanyakan mengenai teguran kepada wali murid dari pihak sekolah sebelum sanksi pemotongan rambut tersebut.
Ia meminta agar pihak sekolah dapat membangun komunikasi dengan orang tua atau wali murid sebelum memberikan sanksi pendisiplinan.
"Tapi ada teguran tertulis enggak yang ditujukan kepada orangtuanya? Kan anak masih di bawah perwalian," kata KDM.
"Dibiasakan guru memberikan teguran kepada orang tua, diberi tahu bahwa anak itu berpenampilan terlalu menor," sambungnya.
Alhasil, sang Guru BK pun mengakui jika sanksi tersebut tak murni soal pendisiplinan di lingkungan sekolah.
Sang Guru BK mengaku di depan Dedi Mulyadi jika kondisi psikologisnya sedang tak stabil.
Hal itu ditengarai banyaknya aduan hingga tekanan terkait aturan penampilan murid di sekolah hingga dirinya mengambil keputusan yang kontroversi dengan memberi sanksi pemotongan rambut terhadap sejumlah siswi.
Guru BK itu pun mengakui kesalahannya di depan Dedi Mulyadi hingga membuat trauma para siswi yang terkena sanksi pemotongan rambut tersebut.(raa)
Load more