Prabowo Bongkar ‘Perang Sunyi’ Era AI: 1 Orang Bisa Kendalikan 1.000 Akun untuk Sebar Hoaks
- BPMI Setpres
Sebaliknya, ia mendorong agar setiap kritik, bahkan yang bernuansa negatif, dijadikan bahan introspeksi.
“Kalau kita difitnah, kita dihujat, anggap itu sebagai peringatan supaya kita waspada,” tegas Prabowo Subianto.
Pendekatan ini dinilai penting agar pemerintah tetap fokus bekerja tanpa terjebak dalam konflik opini di ruang digital.
Sentilan Prabowo: Dari ‘Bodoh’ sampai ‘Keras Kepala’
Dalam pidatonya, Prabowo Subianto juga mencontohkan bagaimana ia menyikapi kritik yang ditujukan kepadanya.
Dengan gaya santai, ia menyebut jika dirinya disebut bodoh, maka itu harus dijadikan motivasi untuk dikelilingi orang-orang pintar.
Begitu pula ketika disebut keras kepala, ia menanggapinya dengan refleksi diri, bukan emosi.
Pernyataan ini sekaligus menunjukkan pendekatan kepemimpinan yang lebih terbuka terhadap kritik, meskipun datang dari ruang digital yang penuh dengan disinformasi.
Kunci Hadapi Era Disrupsi: Tenang dan Tegak Lurus
Di tengah derasnya arus informasi dan potensi manipulasi AI, Prabowo Subianto menekankan pentingnya ketenangan dalam mengambil sikap.
Menurutnya, pemerintah harus tetap berpegang pada prinsip dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang belum tentu benar.
Era digital memang membawa kemudahan, tetapi juga risiko besar jika tidak diimbangi dengan literasi dan kewaspadaan.
Pesan ini menjadi penting, terutama ketika ruang digital kini menjadi medan baru dalam pertarungan pengaruh global.
Dengan peringatan ini, Prabowo Subianto seolah mengingatkan bahwa ancaman masa depan bukan lagi soal kekuatan militer, melainkan siapa yang mampu mengendalikan informasi. (agr/nsp)
Load more