Ada Kabar Buruk, Siklon Makin Dekat Ancam Hujan Ekstrem Jawa-Sumatera
- istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan ancaman hujan ekstrem di Indonesia berpotensi terjadi semakin sering dan bahkan bisa menjadi normal baru akibat perubahan iklim.
Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko banjir dan longsor di berbagai wilayah rawan, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera.
Plt Deputi Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menegaskan penguatan sistem peringatan dini menjadi langkah mitigasi paling penting agar informasi benar-benar diterima masyarakat.
“Bagaimana memitigasi langkah atau early action di lapangan? Ternyata adalah diseminasi. Nah ini, saya kira bisa berperan semua kementerian dan lembaga untuk bagaimana memastikan informasi atau warning peringatan dini dapat diterima oleh masyarakat luas,” kata Andri di DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, konsep early warning for all sangat relevan untuk dikembangkan di Indonesia.
Ia menekankan, peringatan dini mampu menyelamatkan jiwa dan harta benda jika seluruh komponen Multi-Hazard Early Warning System (MHEWS) bekerja secara terpadu.
“Peringatan dini dapat menyelamatkan nyawa dan harta benda jika seluruh komponen Multi-Hazard Early Warning System ini bekerja bersama,” ujarnya.
BMKG juga memaparkan data yang mengonfirmasi dampak perubahan iklim di Indonesia. Berdasarkan data BNPB selama 16 tahun terakhir, dari 2010 hingga 2025, tren kejadian banjir dan longsor terus meningkat seiring naiknya suhu dan perubahan iklim.
Andri menyebut wilayah Jawa Barat menjadi daerah paling rawan secara historis, disusul Jawa Tengah, Jawa Timur, Aceh, serta sejumlah wilayah di Sumatera lainnya. Karena itu, Jawa dan Sumatera menjadi prioritas utama yang perlu mendapat perhatian khusus.
“Ini jadi terkonfirmasi ya, perubahan iklim terkonfirmasi juga dengan tren dampaknya,” tegasnya.
Dalam enam tahun terakhir, BMKG mencatat sejumlah kejadian hujan ekstrem dengan intensitas jauh di atas ambang batas ekstrem 150 milimeter per hari. Banjir Jakarta pada 2020 dipicu curah hujan mencapai 377 milimeter per hari.
Banjir besar Bekasi pada Maret lalu tercatat 232 milimeter per hari, sementara di Bali mencapai 385 milimeter per hari.
Tak hanya itu, saat Siklon Tropis Senyar, curah hujan di Sumatera Barat mencapai 261 milimeter per hari, Aceh 411 milimeter per hari, dan Sumatera Utara 390 milimeter per hari.
“Kita ke depan akan berpotensi juga mengalami hujan-hujan yang sangat-sangat ekstrem di atas 150 milimeter per hari. Mungkin akan sering ada hujan ke depan di atas 200 milimeter per hari, 300 bahkan 400,” ungkap Andri.
Ia menilai data historis tersebut harus menjadi dasar simulasi risiko bencana di setiap daerah, termasuk menghitung daya tampung wilayah terhadap curah hujan ekstrem dan dikaitkan dengan kondisi tata guna lahan saat ini.
BMKG juga menyoroti dampak tidak langsung atau remote effect dari siklon tropis. Meski Indonesia jarang dilintasi langsung siklon, pengaruhnya tetap dapat memicu hujan ekstrem hingga ratusan kilometer dari pusat siklon dan berlangsung selama beberapa hari.
“Walaupun kita tidak dilewati badai seperti di Amerika, di Filipina, di Jepang, tetapi cuaca ekstrem dampak dari pengaruh itu bisa sampai 1.000 kilometer,” jelasnya.
Andri mengingatkan, dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, ancaman siklon tropis yang semakin mendekati daratan Indonesia berpotensi terus berulang akibat perubahan iklim.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, BMKG tengah mengintegrasikan sistem peringatan dini cuaca ekstrem, iklim ekstrem, serta gempa dan tsunami ke dalam satu sistem Multi-Hazard Early Warning System.
Saat ini, BMKG mengelola sekitar 10.800 sensor observasi sebagai basis deteksi, analisis, hingga peringatan berlapis dari skala bulanan hingga jam-jaman.
“Tantangannya bagaimana kita nanti ke depan mengembangkan suatu sistem rantai peringatan dini yang efektif dan efisien yang dapat diterima dan direspons untuk mitigasi,” pungkasnya.(rpi/raa)
Load more