Terungkap! Motif Siswa Ledakan Bom di SMAN 72 Jakarta, Begini Pengakuannya pada Polisi
- tvOnenews/Rika Pangesti
Jakarta, tvOnenews.com - Polisi mengungkap motif remaja berstatus Anak Berkonflik dengan Hukum (ABH) meledakan bom di SMAN 72 Jakarta Utara, hingga puluhan siswa mengalami luka-luka, pada Jumat (7/11/2025).
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto menerangkan, dari hasil pemeriksaan sang anak, didapati motif meledakan bom di sekolah lantaran sakit hati akibat sering dikucilkan.
“Berdasarkan keterangan Anak, motif yang disampaikan adalah rasa sakit hati terhadap lingkungan sekolah, khususnya perlakuan dari sejumlah teman yang dinilai sering mengucilkan,” kata Budi, kepada wartawan, Kamis (5/2/2026).
Sementara itu Budi mengungkapkan, ABH ini telah memendam sejak dirinya duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).
“Anak menerangkan bahwa sejak SMP kerap menjadi bahan ejekan, termasuk dipanggil dengan sebutan yang merendahkan karena lebih sering bergaul dengan teman perempuan, dan situasi serupa berlanjut saat SMA,” jelas Budi.
Atas perbuatan rekan-rekannya tersebut, akhirnya sang anak memutuskan untuk mengebom sekolahnya.
“Perlakuan tersebut membuat anak merasa marah dan tertekan karena serangan yang menyasar penampilan serta kondisi pribadinya. Atas dasar itu, anak mengaku kemudian memutuskan untuk melakukan aksi pemboman di sekolah,” terang Budi.
Sebelumnya, motif di balik aksi peledakan di SMAN 72 Jakarta Utara pada Jumat, 7 November 2025, akhirnya diungkap Polisi.
Pelaku yang berinisial F diduga nekat melakukan perbuatannya karena rasa kesepian yang dialaminya slama ini dan tidak memiliki tempat atau sosok untuk berkeluh kesah.
Hal tersebut disampaikan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Iman Imanuddin, dalam konferensi pers di Markas Polda Metro Jaya, Selasa (11/11/2025).
"Dari hasil penyidikan yang kami peroleh dari penggalian keterangan maupun petunjuk yang ada, bahwa yang bersangkutan, ABH ini terdapat dorongan untuk melakukan peristiwa hukum," katanya.
Iman menambahkan, kondisi psikologis pelaku menjadi salah satu fokus pemeriksaan penyidik.
Polisi juga menggandeng psikolog forensik untuk mendalami latar belakang emosi dan tekanan batin yang dialami F sebelum peristiwa ledakan terjadi.
"Yang bersangkutan merasa sendiri, kemdian merasa tidak ada yang menjadi tempat untuk menyampaikan keluh kesah. Baik itu di lingkungan keluarga, kemudian di lingkungannya sendiri kemudian lingkungan sekolah," katanya.
Load more