IHSG Anjlok, Luhut Minta Investor Tetap Tenang dan Fokus Perbaikan Pasar
- istimewa - antaranews
Mengutip data RTI, IHSG anjlok 5,31 persen ke level 7.887,16. Indeks saham LQ45 juga terkoreksi 3,98 persen ke posisi 800,37. Seluruh indeks acuan mengalami pelemahan seiring meningkatnya aksi jual investor.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menuturkan bahwa pergerakan IHSG anjlok masih rawan berlanjut dalam jangka pendek. Menurutnya, pasar saat ini cenderung bersikap wait and see terhadap hasil pertemuan antara BEI dan MSCI terkait transparansi data free float.
“Selain itu, IHSG anjlok juga dibebani oleh saham-saham emiten konglomerasi dan emiten berbasis emas, seiring terkoreksinya harga emas dunia,” ujarnya.
Pada sesi pertama perdagangan, IHSG sempat bergerak di kisaran tertinggi 8.313,05 dan terendah 7.858,39. Sebanyak 715 saham melemah, 33 saham stagnan, dan hanya 65 saham yang menguat. Tekanan jual yang meluas di hampir seluruh sektor menjadi faktor utama yang membuat IHSG anjlok.
Total frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.080.849 kali dengan volume transaksi mencapai 35,4 miliar saham. Nilai transaksi harian mencapai Rp18,9 triliun, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp16.796 per dolar AS.
Secara sektoral, seluruh sektor saham berada di zona merah. Sektor basic mencatat koreksi terdalam dengan penurunan 11,19 persen. Disusul sektor energi yang melemah 7,87 persen, sektor industri turun 5,81 persen, sektor consumer siklikal merosot 7,92 persen, serta sektor consumer nonsiklikal turun 2,32 persen.
Selain itu, sektor kesehatan terkoreksi 2,05 persen, sektor properti turun 6,39 persen, sektor teknologi melemah 5,37 persen, sektor infrastruktur terpangkas 6,52 persen, dan sektor transportasi turun 5,84 persen. Tekanan merata di seluruh sektor ini mempertegas kondisi IHSG anjlok sepanjang sesi perdagangan.
Meski demikian, Luhut kembali menegaskan bahwa IHSG anjlok tidak seharusnya dimaknai sebagai sinyal memburuknya perekonomian nasional. Ia menilai, kondisi ini justru menjadi momentum penting untuk memperkuat tata kelola pasar modal agar semakin transparan, kredibel, dan mampu menarik investasi jangka panjang. (nsp)
Load more