Respons Guru Sekolah Rakyat soal Wacana Pemerintah Naikkan Gaji Guru: Wah, Angin Segar bagi Dunia Pendidikan
- tvOnenews.com/Aldi Herlanda
Jakarta, tvonenews.com – Wacana Presiden RI, Prabowo Subianto yang akan menaikkan gaji guru disambut positif oleh para pendidik, termasuk dari lingkungan Sekolah Rakyat.
Kepala Sekolah Rakyat Samarinda, Fahrizal, menilai langkah ini sebagai angin segar yang sangat ditunggu oleh para guru, terutama mereka yang mengabdi di daerah dan menghadapi tantangan berat.
"Jujur, ini angin segar untuk kita, para pendidik. Selama ini kesejahteraan guru masih kurang diperhatikan. Padahal guru tidak hanya bekerja saat jam belajar, tapi juga berpikir 24 jam untuk murid-muridnya," ungkap Fahrizal saat ditemui dalam acara Pembekalan Guru dan Sekolah Rakyat di Pusdiklatbangprof Margaguna, Jakarta Selatan, Selasa (19/8).
Fahrizal yang telah menjadi PNS sejak tahun 2006 ini menyampaikan bahwa perhatian terhadap guru seharusnya tidak hanya hadir saat ada kritik terhadap sistem pendidikan.
"Sering kali kalau pendidikan gagal, yang disalahkan guru. Tapi kalau berhasil, jarang guru dipuji. Saya pikir ini (kenaikan gaji) langkah luar biasa dan saya setuju sekali," tegasnya.
Sebagai Kepala Sekolah Rakyat yang baru ditugaskan di Samarinda, Fahrizal menyampaikan bahwa sekolah yang ia pimpin sudah mulai berjalan sejak Juli lalu.
Meskipun masih dalam tahap awal, ia mengaku sudah mengantisipasi sejumlah tantangan besar, terutama karena siswa di Sekolah Rakyat berasal dari latar belakang ekonomi rendah, bahkan sebagian termasuk kategori miskin ekstrem.
"Tantangan utama kami adalah pengawasan. Anak-anak ini sebelumnya hidup bebas, terbiasa membantu orang tua hingga larut malam. Sekarang mereka tinggal di asrama, harus menyesuaikan diri. Itu tidak mudah," jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti potensi munculnya masalah seperti bullying dan pergaulan di lingkungan berasrama yang heterogen.
"Bullying bisa jadi terjadi, karena kita tahu bagaimana dinamika kehidupan di lapangan, terutama dari latar belakang ekonomi yang beragam. Maka pengawasan harus ekstra," imbuhnya.
Soal pengelolaan sarana dan prasarana, Fahrizal menyebut pihaknya berupaya memaksimalkan apa yang ada.
Ia juga mengapresiasi rekrutmen guru dan kepala sekolah Sekolah Rakyat yang dilakukan melalui seleksi ketat oleh Kementerian Pendidikan dan Kementerian Sosial.
"Tesnya serius. Mulai dari wawancara, psikotes, sampai TOEFL. Saya tidak direkomendasikan siapa-siapa, saya ikut seleksi murni. Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun pendidikan dari bawah," ujarnya.
Fahrizal menegaskan bahwa dirinya lebih tertarik bergabung dengan Sekolah Rakyat dibanding sekolah unggulan yang siswa-siswinya sudah memiliki kemampuan di atas rata-rata. Sebab, ia merasa lebih tertantang.
"Saya justru merasa tertantang di Sekolah Rakyat. Sekolah unggulan tantangannya sedikit karena siswanya sudah pintar. Tapi di sini, kita membentuk anak dari nol, dari yang tidak bisa jadi bisa, itu luar biasa," katanya.
Terakhir, ia mengungkapkan harapan besar terhadap masa depan pendidikan Indonesia, khususnya di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.
"Langkah Presiden menjemput bola—membawa anak-anak miskin, putus sekolah, lalu diasramakan dan dididik—itu luar biasa. Saya yakin kalau ini konsisten dijalankan, Indonesia bisa benar-benar mencapai Indonesia Emas 2045," pungkasnya. (rpi/iwh)
Load more