Tak Kalah Sangar dari Hercules, John Kei juga Punya Masa Lalu Kelam, Bolak-balik Masuk Penjara, Pertama Kali Habisi Nyawa Orang saat jadi Satpam: Saya Tebas, karena...
- tvOnenews / Antara
tvOnenews.com - Rosario de Marshall atau Hercules bukan satu-satunya preman yang memiliki reputasi “berani mati” di Indonesia. Ada pula nama John Refra alias John Kei, preman asal Maluku yang dikenal tak kalah brutal.
Jika Hercules identik dengan dominasi di wilayah Tanah Abang dan perannya dalam organisasi massa, John Kei adalah simbol kekuasaan dunia gelap Jakarta Timur hingga kasus-kasus kriminal kelas berat yang menyertainya.
Belakangan, nama Hercules kembali menjadi sorotan publik setelah pernyataannya yang menyindir dua purnawirawan jenderal TNI, Letjen (Purn) Sutiyoso dan Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, menuai kontroversi.
Hercules, yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB), menuduh Sutiyoso pernah menyuarakan upaya kudeta, sebuah klaim yang dibantah keras oleh Gatot Nurmantyo.
Gatot menilai pernyataan Hercules sebagai fitnah yang tidak berdasar dan menegaskan bahwa tindakan anarkistis GRIB di Depok.
Termasuk pembakaran mobil dinas kepolisian, merupakan ancaman serius terhadap wibawa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
- kolase tim tvOnenews
"Saya harus bicara. Tidak boleh ada preman yang memperlakukan aparat seperti itu. Kalau dibiarkan, ini akan jadi ancaman nyata bagi negara," tegas Gatot.
Kontroversi semakin memanas setelah beredar foto sejumlah prajurit Kopassus berpose bersama Hercules.
Komandan Jenderal Kopassus TNI AD, Mayjen TNI Djon Afriandi, menyampaikan permintaan maaf atas kejadian tersebut dan menyebutnya sebagai kekhilafan anggotanya yang tidak memikirkan dampak negatif dari momen tersebut.
Tak Kalah Sangar dari Hercules, John Kei juga Punya Masa Lalu Kelam, Bolak-balik Masuk Penjara
John Kei lahir di Pulau Kei, Maluku Tenggara, pada 10 September 1969. Sejak kecil, hidupnya diliputi kemiskinan.
Dalam wawancara bersama Andy F. Noya dalam acara Kick Andy, John menceritakan masa kecil yang keras: orang tuanya petani miskin, dan ia sering dibully oleh senior-senior di sekolah, hingga terbiasa berkelahi.
“Setiap pulang sekolah, senior adu saya sama teman. Kalau kalah, jadi dua lawan satu. Dari kecil sudah hobi berantem,” ujarnya.
Ia sempat bersekolah di SMEA, namun pendidikan tak berjalan mulus karena ketidakcocokan dan keterbatasan ekonomi.
Sekolahnya pun terputus saat akan naik ke kelas dua. Ia lalu hijrah ke Surabaya dengan modal nekat. Tak punya uang, John menyusup ke kapal menuju Jawa dan bekerja sebagai pembersih kapal karena tak sanggup membeli tiket.
Setelah tinggal sementara di rumah saudaranya di Surabaya, ia akhirnya memilih menggelandang di jalanan karena merasa tidak cocok.
Tujuan akhirnya adalah Jakarta. Dengan naik kereta, ia menetap di kawasan Jatinegara dan mulai bekerja sebagai satpam di sebuah tempat hiburan malam yang ramai dikunjungi warga asing. Di sinilah titik balik kelam hidupnya dimulai.

- Antara
Rekam Jejak Kriminal John Kei hingga Kasus Pembunuhan Ayung
Pada tahun 1992, John Kei terlibat perkelahian saat bekerja sebagai security. Ia sempat dipukul dari belakang oleh salah satu pengunjung.
Merasa tidak terima, ia pulang ke rumah, mengambil parang, dan kembali ke tempat kejadian. Awalnya ia hanya berniat melukai, tapi sabetan parang justru mengenai leher lawan hingga tewas.
“Saya nggak niat bunuh, cuma mau kasih besutan. Tapi ternyata kena leher, dan dia mati,” ujar John Kei dalam wawancara tersebut.
Tak puas, John lalu mengejar kelompok lawan lainnya dan melukai beberapa orang lagi. “Ada sekitar 5 sampai 6 orang, saya potong kakinya,” tambahnya.
Saat itu ia masih berusia 22 tahun dan belum merasa menyesal. “Waktu itu saya bangga, saya merasa jago,” katanya blak-blakan.
Kasus tersebut membuatnya buron, namun John akhirnya menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya pada 24 Mei tahun itu.
Bahkan selama menjalani hukuman di dalam lapas pun, ia masih sering terlibat perkelahian dengan narapidana lain.
Tak berhenti di satu kasus, John Kei terseret dalam berbagai perkara hukum. Salah satu kasus paling mencolok adalah pembunuhan Tan Harry Tantono alias Ayung, pengusaha yang sempat disebut dalam pusaran kasus Hambalang.
Ayung ditemukan tewas dengan luka leher dan puluhan tusukan di Hotel Swiss-Bel, Jakarta, pada 27 Januari 2012.
John Kei dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 16 tahun penjara oleh Mahkamah Agung pada 24 Juli 2013. Vonis itu dua tahun lebih berat dari tuntutan jaksa.
MA tak menjelaskan secara rinci alasan hukuman diperberat. Kasus tersebut menegaskan bahwa reputasi John Kei sebagai aktor kriminal kelas berat memang bukan isapan jempol.
- Kolase Tvonenews.com
John Kei Akhirnya Bertobat di Nusakambangan
Namun kehidupan di balik jeruji membawa perubahan. Di Lapas Nusakambangan, John Kei mengaku mulai mendalami agama dan bertobat. Ia rutin berdoa dan membaca kitab suci, serta aktif memberi khotbah bagi narapidana lain.
“Saya ingin menjadi manusia baru saat keluar dari penjara. Saya serahkan hidup saya pada Tuhan,” ujarnya menyentuh. Ia pun mengaku ingin meninggalkan masa lalunya dan memperbaiki hidup.
“Kalau saya mati, saya ingin masuk surga, bukan ke neraka karena bunuh diri,” tambahnya.
Berbeda dengan Hercules yang masih aktif dalam dunia ormas, Grib Jaya dan kerap muncul dengan sikap kontroversial.
John Kei justru kini lebih memilih jalur religius dan sepi dari sorotan publik, meski belum sepenuhnya lepas dari label masa lalunya.
Perbandingan Dua Preman Legendaris: Hercules vs John Kei
Baik Hercules maupun John Kei dikenal sebagai sosok preman yang memiliki pengaruh besar di Jakarta. Hercules dikenal menguasai wilayah Tanah Abang dan memiliki jaringan yang luas.
Sementara John Kei dikenal dengan kelompok AMKEI yang bergerak di bidang penagihan utang dan jasa keamanan.
Namun, keduanya juga memiliki perbedaan mencolok. Hercules saat ini aktif di dunia politik melalui organisasi GRIB, meskipun tindakannya kerap menuai kontroversi.
Sementara John Kei lebih dikenal dengan aksi-aksi kriminalnya yang berujung pada hukuman penjara.
Kisah hidup kedua sosok ini mencerminkan kompleksitas dunia premanisme di Indonesia, dimana kekuasaan dan pengaruh seringkali beriringan dengan tindakan kriminal dan kekerasan.
Meskipun keduanya pernah menyatakan keinginan untuk berubah, tindakan mereka di masa lalu dan sekarang tetap menjadi sorotan publik dan aparat penegak hukum. (udn)
Load more