Tawaran Proposal Damai Rusia-Ukraina, Perempuan Indonesia Raya: Prabowo Perjuangkan Perempuan dan Anak Korban Perang
- IST
Ia juga mengungkapkan bahwa perempuan selalu dipersonifikasikan sebagai simbol dari harga diri sebuah bangsa, maka perempuan menjadi korban perkosaan sebagai penaklukan dari simbol kehormatan dari negara yang sedang berperang. Perkosaan terhadap perempuan dipandang sebagai penaklukan terhadap bangsa yang diperangi atau bangsa yang dijajah.
Terjadi perkosaan massal terhadap perempuan untuk menunjukkan bahwa negara "lawan" telah gagal dalam melindungi para perempuannya, perkosaan terhadap perempuan, anak perempuan, saudara perempuan, istri bahkan ibu dari para pihak yang berperang dianggap sebagai penaklukan terhadap lawan.
“Di era perang dunia kedua kita mengenal Jugun Ianfu, perempuan-perempuan dijadikan budak seksual oleh penjajah pada masa penjajahan Jepang di Indonesia. Jugun Ianfu terkenal sebagai perempuan yang menjadi korban sebagai budak seksual tentara Jepang dinegara-negara jajahannya termasuk Indonesia, dimana puluhan ribu perempuan yang dipaksa menjadi Jugus Ianfu di Indonesia," ungkap Edriana.
Edriana juga menjelaskan kasus yang sama dari negara-negara yang juga pernah mengalami perang, seperti Bosni-Herzegovina dan Serbia. Perang etnis dimana kita mendengar istilah pembersihan etnis dengan jalan memperkosa perempuannya. Sementara Prabowo juga mengambil contoh pengalaman Negara-negara Asia yang banyak sekali menjadi korban penjajahan seperti perang Vietnam-AS, Perang di Kamboja, begitupun perang yang terjadi di Timur Tengah. Bahkan pengalaman Indonesia yang mengalami berkali-kali di jajah. Pengalaman kita (Indonesia) yang berkali-kali menjadi korban dari perang berdarah.
"Dalam semua perang tersebut Perempuan dan Anak menjadi korban kekejaman dari perang berdarah yang berkepanjangan. Masyarakat sipil yang harus kehilangan kehidupannya karena harus mengungsi jauh dari tanah kehidupannya. Bagaimana perkembangan mental anak keluarga yang harus hidup ditempat pengungsian. Mereka setiap hari harus khawatir dengan nasib anak-anaknya yang selalu berpindah-pindah agar tidak tertangkap musuh, pada sisi lain mereka juga dijadikan budak seksual,” ungkap Edriana.
Perang jelas tidak menguntungkan bagi masa depan suatu negara kata Edriana. Perang telah menghancurkan peradaban umat manusia. Mereka tidak hanya kehilangan infrastruktur, negara tersebut harus kehilangan generasi terbaik yang meninggal dalam perang atau ketakutan hidup dan anak-anak harus kehilangan harapan mewujudkan cita-citanya yang dulu ingin jadi dokter, ilmuan, pengusaha, dan lainnya.
Load more