PM Takaichi Kirim Penghormatan ke Kuil Yasukuni, China: Kuil Penjahat Perang
- ANTARA
Beijing, tvOnenews.com- Pemerintah China memprotes keras tindakan Perdana Menteri Jepang mengirimkan persembahan ritual ke Kuil Yasukuni di Tokyo yang dianggap sebagai simbol penghormatan atas militerisme masa perang."China menentang dengan tegas dan mengutuk keras langkah-langkah negatif terbaru Jepang yang berkaitan dengan Kuil Perang Yasukuni, kami pun telah menyampaikan protes yang serius dan keras kepada pihak Jepang," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (21/4).
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengirimkan persembahan berupa ranting pohon masakaki (sejenis pohon cemara) ke Kuil Yasukuni pada Selasa (21/4), bertepatan dengan dimulainya festival musim semi selama tiga hari di kuil tersebut.
Hal itu mengikuti praktik yang dilakukan para perdana menteri Jepang sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir. Di antara mereka yang turut memberikan persembahan serupa adalah Ketua Majelis Rendah Eisuke Mori dan Presiden Majelis Tinggi Masakazu Sekiguchi.
Mengenai apakah ia akan mengunjungi kuil tersebut, PM Takaichi menyatakan bahwa hal itu merupakan masalah "pribadi" dan menolak memberikan komentar lebih lanjut.
"Kuil Yasukuni merupakan instrumen spiritual sekaligus simbol bagi kaum militeris Jepang yang bertanggung jawab atas terjadinya perang agresi. Pada kenyataannya, tempat ini merupakan sebuah kuil bagi para penjahat perang," ungkap Guo Jiakun.
Tahun ini menandai peringatan ke-80 dimulainya Pengadilan Tokyo. Selama lebih dari 2,5 tahun, para hakim dari 11 negara menyidangkan kasus-kasus perang terkait Jepang dan mengungkap kejahatan mengerikan Jepang dalam perang.
"Namun, yang sungguh memicu kemarahan kami, 80 tahun berselang, Kuil Perang Yasukuni yang memiliki reputasi buruk masih memuliakan para penjahat perang Kelas-A Jepang yang telah divonis bersalah sedangkan para pejabat dan politisi Jepang masih saja melakukan kunjungan, mengirimkan persembahan ritual, atau memberikan sumbangan uang ke kuil perang itu," jelas Guo Jiakun.
Langkah-langkah tersebut, menurut Guo Jiakun, adalah upaya untuk mengelak dari tanggung jawab perang, penghinaan terhadap keadilan, provokasi terhadap para korban perang Jepang, serta tantangan terhadap hasil kemenangan Perang Dunia II.
"Langkah-langkah semacam itu telah dikecam secara luas dan ditolak dengan tegas oleh komunitas internasional dan Jepang harus melakukan introspeksi diri yang serius. Akankah Jepang terus membiarkan bayang-bayang militerisme menyebar?" tambah Guo Jiakun.
Saat masih menjabat sebagai menteri, PM Takaichi rutin mengunjungi kuil tersebut selama festival musim semi dan musim gugurnya, serta pada 15 Agustus yang diperingati sebagai penyerahan diri Jepang yang mengakhiri Perang Dunia II.
Kuil Yasukuni di pusat kota Tokyo sejak lama menjadi lokasi kontroversial karena menjadi lokasi penghormatan sekitar 2,5 juta arwah orang yang meninggal dalam berbagai perang yang melibatkan Jepang sejak 1853 seperti Perang Boshin, Pemberontakan Seinan, Perang China-Jepang dan Rusia-Jepang, Perang Dunia I, Insiden Manchuria, Perang Korea maupun Perang Asia Timur Raya (Perang Dunia II).
Dari jumlah tersebut, termasuk 14 penjahat perang Kelas A yang menurut pemerintah China divonis oleh Tribunal Militer Internasional untuk Timur Jauh serta 1.054 penjahat perang Kelas B dan C dari Pengadilan Tokyo juga dipuja di sana.
Kuil Yasukuni sendiri berdiri pada pada tahun kedua era Meiji (1869) atas perintah Kaisar Meiji dengan nama Kuil Shokonsha dan baru pada 1879 diubah menjadi Yasukuni Jinja.
Nama "Yasukuni" berarti menjaga perdamaian bagi seluruh bangsa dan kuil itu pun didirikan untuk memperingati dan menghormati jasa mereka yang dinilai mengorbankan nyawa demi negara.
Sekitar lima juta orang mengunjungi kuil ini setiap tahun sebagai lokasi utama untuk mengenang mereka yang gugur dalam perang.
Kunjungan terakhir ke Kuil Yasukuni yang dilakukan oleh seorang perdana menteri Jepang yang sedang menjabat terjadi pada Desember 2013, yakni oleh Shinzo Abe, mantan PM Jepang yang dikenal sebagai mentor politik Takaichi.(ant)
Load more