Review Avatar: Fire and Ash, Pandora Masih Menawan, Meski James Cameron Tak Tawarkan Formula Baru
- Disney
Jake dan keluarganya dihadapkan pada dilema moral yang lebih kompleks, di mana tidak ada pilihan yang sepenuhnya benar atau salah.
Tema kemarahan, konsekuensi kekerasan, serta dampak panjang kolonialisme menjadi fondasi utama cerita, membuat Fire and Ash terasa lebih dewasa dibanding dua film sebelumnya.
- Disney
Fire and Ash juga memperluas fokus cerita ke generasi berikutnya. Lo’ak, Kiri, dan Spider tidak lagi sekadar karakter pendukung, melainkan menjadi bagian penting dari konflik dan perkembangan cerita.
Lo’ak digambarkan semakin bergulat dengan identitas dan tanggung jawab, Kiri dengan keterikatan spiritualnya yang unik terhadap Eywa, sementara Spider berada di posisi paling rumit sebagai manusia yang terjebak di antara dua dunia.
Banyak penonton dan juga kritikus yang mengatakan Avatar: Fire and Ash dipandang sebagai titik balik naratif saga ini. Mereka menilai James Cameron sengaja membawa ceritanya ke wilayah abu-abu secara moral, menjauh dari pola klasik manusia jahat versus Na’vi baik.
Pendekatan ini membuat dunia Avatar terasa lebih hidup dan jauh lebih politis, sekaligus menantang persepsi penonton terhadap Pandora.
Cameron juga berani menggeser fokus cerita dari konflik eksternal ke konflik internal. Dengan menghadirkan Klan Mangkwan sebagai pihak yang saling berseberangan, Avatar tidak lagi hanya menjadi kisah perlawanan terhadap penjajahan, tetapi juga refleksi tentang bagaimana luka dan kemarahan bisa melahirkan kekerasan dari dalam suatu komunitas.
Dari sisi visual, tentu ekspektasi penonton akan tetap sangat tinggi. Seperti dua film sebelumnya, Fire and Ash diperkirakan kembali mendorong batas teknologi sinema, khususnya dalam merancang lingkungan ekstrem berbasis api, abu, dan lanskap vulkanik.
Secara sinematografi, dengan kemampuan teknologi CGI dan efek kamera yang benar-benar menonjol, bahkan bagi ukuran standar blockbuster besar.
Dengan cerita yang terasa familiar, namun visualnya yang luar biasa, selalu memberi sensasi spektakuler yang kuat di layar lebar, terutama jika disaksikan dalam format IMAX 3D.
Selalu ditunggu dan tentu saja selalu dipuji, film ini juga tidak lepas dari banyak kritik tajam dari para pengamat film dan penonton.
Load more