- Ilustrasi AI ChatGPT
Teks Khutbah Jumat 13 Maret 2026: Hikmah Dirahasiakannya Malam Lailatul Qadar
tvOnenews.com - Saat ini, umat Islam telah memasuki fase yang paling istimewa dalam Ramadhan, yaitu sepuluh hari terakhir.
Pada periode inilah umat Muslim dianjurkan untuk semakin meningkatkan ibadah, seperti memperbanyak shalat malam, membaca Al-Quran, berdzikir, serta memperbanyak doa.
Sebab, pada malam-malam inilah terdapat satu malam yang sangat agung, yaitu Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Namun yang menarik, waktu pasti datangnya malam Lailatul Qadar tidak diketahui secara pasti.
Para ulama menjelaskan bahwa Allah SWT menyembunyikan waktu kedatangannya dengan hikmah tertentu agar manusia bersungguh-sungguh dalam beribadah sepanjang malam di bulan Ramadhan, khususnya pada sepuluh malam terakhir.
Dilansir dari laman Lirboyo.net, khutbah Jumat kali ini mengangkat tema mengenai hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qadar, agar umat Islam semakin termotivasi memaksimalkan ibadah di penghujung Ramadhan.
- Pexels/Furkan Furkan_Uslu57
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، الْقَائِلِ فِيْ كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيِّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّيْ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ . وَقَال: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Marilah kita memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan, terutama nikmat iman dan Islam.
Dengan penuh kerendahan hati, kami mengajak diri sendiri dan seluruh jamaah untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Di antara kemuliaan bulan Ramadhan adalah adanya satu malam yang sangat istimewa, yaitu malam yang nilai kebaikannya melebihi seribu bulan. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ وَلاَ يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلاَّ مَحْرُومٌ
Artinya: “Sesungguhnya bulan ini (Ramadhan) telah datang kepada kalian. Padanya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalangi darinya, sungguh ia telah terhalangi dari semua kebaikan. Dan tidak ada yang terhalangi (darinya), kecuali orang yang memang terhalangi dari kebaikan).” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa'i)
Malam yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah malam Lailatul Qadar. Namun hingga kini tidak ada kepastian mengenai kapan tepatnya malam tersebut terjadi. Para ulama memiliki berbagai pendapat mengenai waktu datangnya malam tersebut.
Sebagian ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Ada pula yang menyebutkan malam ke-21, 22, dan seterusnya. Bahkan terdapat banyak pandangan yang berbeda terkait waktu kedatangannya.
Ulama besar Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari mencatat kurang lebih 45 pendapat mengenai waktu Lailatul Qadar. Meski demikian, menurutnya pendapat yang paling kuat adalah malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Imam Syafi’i bahkan menyebutkan bahwa malam ke-21 dan 23 memiliki peluang besar, sementara mayoritas ulama berpendapat malam ke-27 Ramadhan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dirahasiakannya waktu pasti Lailatul Qadar tentu memiliki hikmah yang sangat besar. Syekh Fakhruddin al-Razi dalam kitab Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa Allah sengaja merahasiakan waktu-waktu tertentu yang memiliki keutamaan besar agar manusia berlomba-lomba dalam beribadah dan tidak hanya beribadah pada waktu tertentu saja.
Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari. Menurutnya, jika malam Lailatul Qadar ditentukan secara pasti, kemungkinan besar manusia hanya akan bersungguh-sungguh beribadah pada malam tersebut saja.
Dengan dirahasiakannya waktu malam itu, umat Islam terdorong untuk meningkatkan ibadah sepanjang malam di bulan Ramadhan.
Pendapat lain juga disampaikan oleh Syekh Nidzamuddin an-Nasibasuri dalam tafsir Graraib al-Quran wa Raghaib al-Furqan, sebagai berikut:
اَلْحِكْمَةُ فِيْ إِخْفَاءِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ فِيْ الْلَيِالِيْ كَالْحِكْمَةِ فِيْ إِخْفَاءِ وَقْتِ الْوَفَاةِ وَيَوْمِ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَرْغَبَ الْمُكَلَّفُ فِيْ الطَّاعَاتِ وَيَزِيْدَ فِيْ الْاِجْتِهَادِ وَلَا يَتَغَافَلَ وَلَا يَتَكَاسَلَ وَلَا يَتَّكِلَّ.
Artinya: “Hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qadar di antara malam-malam bulan Ramadhan adalah seperti dirahasiakannya kematian dan hari kiamat. Sehingga manusia dengan penuh suka cita menjalankan ibadah, lebih bersungguh-sungguh, tidak lalai, dan tidak bermalas-malasan.”
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Setelah mengetahui hikmah besar di balik dirahasiakannya malam Lailatul Qadar, kita patut bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana kesungguhan ibadah kita selama bulan Ramadhan ini? Apakah dengan ibadah yang biasa-biasa saja kita dapat berharap meraih malam yang lebih baik dari seribu bulan?
Mari kita manfaatkan sisa waktu Ramadhan dengan meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak doa, dzikir, membaca Al-Quran, serta memperbaiki amal kebaikan agar kita termasuk orang-orang yang beruntung mendapatkan malam Lailatul Qadar.
أًَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ الله الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ . إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ، وَاسْتَغْفِرُوْا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ للَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالقُرْءَانِ. وَاجْعَلْهُ لَنَا إِمَامًا وَنُورًا وَهُدًا وَرَحْمَةً. اللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِينَا. وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا. وَارْزُقْنَا تِلَاوَتَهُ ءَانَآءَ الَّيْلِ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ. وَاجْعَلْهُ لَنَا حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
(gwn)