- Pexels/Thirdman
Hati-Hati Ibadahmu Sia-Sia karena Riya! Ini Doa Ampuh agar Terhindar dari Sifat Riya dan Syirik
tvOnenews.com - Setiap amal ibadah yang dilakukan seharusnya semata-mata karena Allah SWT.
Namun, tanpa disadari, terkadang dalam hati manusia muncul rasa ingin dipuji atau dilihat orang lain.
Rasa itu dikenal dengan riya, salah satu sifat tercela yang bisa membuat amal menjadi sia-sia.
Bahkan, jika dilakukan secara terus-menerus dan disengaja, bisa berubah menjadi syirik kecil, yang sangat berbahaya bagi keikhlasan seorang hamba.
- Pexels/Ahmar Graphy
Menurut Syekh Ali Jaber, sifat riya’ adalah ketika seseorang beramal bukan karena Allah, melainkan untuk pamer, ingin dipuji, atau demi tujuan duniawi.
Sifat ini sangat halus dan bisa menyelinap tanpa disadari dalam diri siapa pun.
Misalnya, seseorang yang rajin salat berjamaah di masjid bukan karena ingin beribadah kepada Allah, tetapi agar terlihat saleh di mata orang lain, atau bahkan karena ingin menarik perhatian seseorang.
Lebih lanjut, Syekh Ali Jaber juga mengingatkan bahwa riya tidak hanya muncul pada orang yang senang dipuji, tetapi juga pada mereka yang meninggalkan kebaikan karena takut dipuji.
Beliau menuturkan sebuah kisah tentang seseorang yang selalu berada di shaf pertama saat salat berjamaah, tidak pernah absen selama bertahun-tahun.
- Pexels/Eslam Mohammed Abdelmaksoud
“Hingga suatu hari terdengar sampai ke telinga dia ada orang yang memuji ‘Subhanallah bapak itu selalu ada di shaf pertama, bisa kuat dia’,” kata Syekh Ali Jaber.
“Karena merasa tidak enak, lalu keesokan harinya dia mundur ke belakang (shaf belakang). Itu juga termasuk perbuatan riya,” lanjutnya.
Padahal, menurut Syekh Ali Jaber, jika seseorang benar-benar ikhlas karena Allah, seharusnya pujian tidak mempengaruhi amalnya.
“Makanya ulama berkata, jaga ikhlas di awal amal, di pertengahan amal dan di akhir amal,” ujarnya dalam kanal YouTube Muslim yang diunggah pada 27 Mei 2021.
“Mungkin dimulai dengan niat baik, tapi di pertengahan, namanya manusia ada ujian. Ada bangga diri, dan hal-hal lain yang bisa merusak ikhlas kita,” sambungnya.
- Pexels/Mohammed Alim
Beliau juga mencontohkan, ada orang yang tetap berada di shaf pertama, tetapi niatnya bukan karena Allah melainkan agar terlihat pantas menjadi ketua masjid.
“Karena orang tersebut dari awal niatnya ingin mendapat kedudukan dan ingin dipuji, berarti selama dia mengamalkan bukan riya’ lagi, tapi sudah masuk perbuatan syirik,” jelasnya.
Syekh Ali Jaber menegaskan, ibadah seharusnya murni karena Allah, bukan karena manusia.
Kuncinya adalah menjaga keikhlasan hati, beramal lillahi ta’ala dan tetap istiqamah.
“Orang yang ikhlas akan merasa sama saja saat dipuji maupun dihina,” kata beliau.
“Kalau dipuji sudah merasa senang, hati-hati. Atau dihina tersinggung, hati-hati. Berarti dia sensitif, jauh dari ikhlas. Kalau orang yang ikhlas, yang diperdulikan hanya Allah,” tambahnya.
- Istimewa
Untuk menjaga hati dari sifat riya’ dan syirik, Syekh Ali Jaber mengajarkan sebuah doa perlindungan yang bisa diamalkan setiap hari:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا وَأَنَا أَعْلَمُهُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُهُ
Artinya:
“Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang saya tahu. Dan saya memohon ampun dari perbuatan yang saya tidak tahu.”
“Yang dimaksud adalah berlindung kepada Allah dari perbuatan yang bisa menjatuhkan saya dengan sengaja kepada syirik, atau tidak sengaja menjatuhkan saya kepada syirik,” jelas Syekh Ali Jaber.
Melalui doa ini, umat Islam diajak untuk selalu waspada dan memohon perlindungan dari penyakit hati yang bisa menghapus pahala ibadah.
Sebab, amal yang besar sekalipun akan menjadi sia-sia jika tidak dilandasi dengan keikhlasan kepada Allah SWT. (gwn)