- kolase tvOnenews.com
Rabiul Awal: Bulan Kelahiran dan Wafatnya Nabi Muhammad SAW, Bagaimanakah Asal Usulnya?
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
Ibnu Katsir saat menafsirkan surat At-Taubah ayat 36 di atas, tentang pembagian bulan menjadi dua belas, merujuk pendapat karya Syekh Alamuddin as-Sakhawi terkait alasan penamaan bulan-bulan Hijriyah.
Dalam karya Syekh Alamuddin yang berjudul al-Masyhur fi Asma’il Ayyam was-Syuhur itu, dijelaskan bahwa alasan penamaan Rabiul Awal dan Rabiul Akhir karena pada bulan tersebut orang Arab membangun atau mendiami bangunan khusus musim semi atau gugur. (Tafsir Ibnu Katsir Darut-Thayibah, juz 4 hlm. 146).
Selain itu, ada pula pendapat al-Biruni.
Menurutnya, dua bulan rabi’, awal dan akhir dinamai demikian sebab pada bulan tersebut tumbuh bunga-bunga, terus menerus berembun dan hujan.
Menurutnya, di daerah tempat dia tinggal, ciri-ciri tersebut adalah ciri musim yang dinamai kharif (musim gugur).
Sedangkan orang Arab, dengan ciri-ciri tersebut menamai musim itu dengan rabi’ (musim semi). (al-Biruni, al-Atsar al-Baqiyah ‘anil Qurun al-Khaliyah, hlm. 69)
Peristiwa Besar di Bulan Rabiul Awal
Pada bulan Rabiul Awal ada beberapa peristiwa penting dalam slam.
Berikut beberapa peristiwa penting yang terjadi di bulan Rabiul Awal.
Lahirnya Nabi Muhammad SAW
Kaligrafi Nabi Muhammad SAW (kolase tvOnenews/pexels)
Peristiwa terbesar di bulan Rabiul Awal adalah lahirnya Nabi Muhammad SAW.
Apabila diperhatikan, kelahiran Nabi Muhammad SAW di bulan ini cukup menarik.
Bulan rabi’ dianggap sebagai bulan dimana tumbuh bunga-bunga dan turunnya hujan di padang pasir.
Dengan demikian, lahirnya Nabi Muhammad SAW ibarat sebuah isyarat bahwa akan ada sosok penyubur, penyembuh dahaga di tengah gersangnya peradaban masyarakat jahiliyyah kala itu.