- Antara/Reuters
Gunung Everest Diduga Jadi Ladang Skandal Sindikat Penipuan, Pendaki Dibuat Sakit agar Dievakuasi secara Palsu
Siasat Pemandu Pendaki Gunung Everest Ciptakan Keadaan Darurat
Pemandu biasanya menggunakan dua metode melancarkan siasatnya. Metode pertama terjadi saat kondisi pendaki terlihat kelelahan akibat mendaki selama berhari-hari.
Di momen ini, pendaki ditawarkan oleh pemandu agar mereka berpura-pura sakit. Hal ini menjadi pembuka jalur helikopter melancarkan aksinya saat mengevakuasi mereka.
Adapun metode kedua lebih mengandalkan efek dari penyakit ketinggian atau altitude sickness. Di ketinggian 3.000 meter, mereka biasanya mendera luar biasa.
Dampak dari penyakit ini bisa membuat pendaki sakit kepala. Selain itu, mereka juga mengalami kesemutan hingga kekurangan oksigen yang luar biasa.
Sebenarnya sejumlah penyakit ini bisa dientaskan dengan istirahat, turun bertahap hingga hidrasi.
Tetapi, pihak hotel diduga terlibat dalam skandal ini. Mereka sengaja membuat pendaki cemas dengan embel-embel "potensi meninggal dunia dan harus segera dievakuasi".
Jaringan kejahatan ini tidak tertuju pada satu orang. Beberapa di antaranya yang diduga terlibat, seperti eksekutif rumah sakit, operator helikopter, hingga pemilik perusahaan berbasis pendakian.
Polisi sampai saat ini telah mendakwa 32 orang. Kepolisian Nepal juga sudah menangkap sekitar 11 orang. Semuanya diduga terlibat akibat pemalsuan dokumen medis hingga catatan penerbangan.
Sindikat penipuan di Gunung Everest menyebabkan ribuan pendaki menjadi korbannya. Sejak 2022, sekitar lebih dari 4.700 pendaki dari internasional terkena skandal ini.
(hap)