- tvOneNews
Di Balik Gemerlap Jakarta, Kampung Tanpa Sinar Matahari Buat Warganya Tak Kenal Malam dan Hidup Berhimpitan
Sebuah keluarga yang dipimpin oleh Minah (54), salah satu warga asli Kampung Rawa harus hidup berhimpitan di sepetak gang gelap itu.
Minah mengaku dirinya sudah dari lahir tinggal di rumah sepetak. Di sana, ia merasakan hidup yang pahit dan kejam di tengah kondisi itu selama 54 tahun.
Minah dan keluarga memaksakan aktivitasnya di tengah labirin. Selama 54 tahun, ia tidak pernah sedikitpun mendapat cahaya matahari di halaman rumahnya.
Meski demikian, Minah sudah terbiasa dengan kondisi terpencil ini. Walau tidak seberuntung dengan yang lain, ia tetap menjalani aktivitas sehari-harinya.
"Kayak biasa orang-orang aja kita sudah biasa. Waktunya cuci piring ya cuci piring, waktunya mandi ya kita mandi, nggak ada gangguan," ucap Minah.
Minah memahami setiap kali mencuci pakaian memikirkan cara mengeringkannya. Hal ini mengingat tempat tinggalnya di tengah kondisi lembap dan tak tersentuh nikmatnya cahaya matahari.
Namun begitu, Minah harus menaiki atap bangunan tempat tinggalnya. Tujuannya tentu agar kering dengan cepat saat terkena cahaya sinar matahari.
"Enggak jemur di depan rumah karena kan nggak kering. Kalau di atas, ada hawa sedikit jadinya bisa kering. Misalnya hari ini mencuci pakaian, besok kering biasanya sore," bebernya.
Sirkulasi Udara Terbatas
Lebih lanjut, Minah menjelaskan, rumah yang ditinggali olehnya seluas 3x4 meter dibangun menjulang tinggi. Ia harus hidup bersama tiga anak setelah suami meninggal dunia.
Di dalam bangunan itu, Minah dan keluarga menempatkan toilet dan ruang bersih di belakang rumahnya. Meski sempit, ia tetap menatanya dengan rapi.
Kemudian, Minah dan warga harus hidup di tengah keterbatasan sirkulasi udara. Ia menganggap sirkulasi sebagai barang mahal akibat kondisi gang yang lembap dan pengap.
Warga mau tak mau harus memasang kipas angin. Kata Minah, kipas angin menjadi penyambung napas agar tetap mendapatkan udara.
Meski seolah tak punya pilihan, warga harus beradaptasi dan berdamai dengan menggantungkan kebutuhan sirkulasi udara lewat kipas angin hingga cahaya lampu yang hidup selama 24 jam.
Minah menyampaikan harapan terpendamnya kepada Pemprov Jakarta. Ia hanya menginginkan pemerintah menengok kondisi rumah di Kampung Rawa yang bertahun-tahun hidup di tengah gelap gulita.