- Istimewa
Evident Nilai Lembaga Pemeringkat Asing Berperan Pada Ketidakstabilan Pasar Modal
Rina mengingatkan pasca Krisis Keuangan Asia tahun 1997-1998 yang membuat pasar modal semakin tergantung pada lembaga pemeringkat, dari situ justru menciptakan keuntungan dari volatilitas yang terjadi di pasar modal.
Pada krisis keuangan global 2008, perusahaan indeks memberi peringkat tertinggi pada sekuritas yang kemudian runtuh. Perusahaan-perusahaan pemeringkat tersebut membayar denda, lalu kembali mencetak rekor pendapatan tertinggi.
“Bank investasi meraup untung saat indeks naik, saat penurunan, dan lagi saat pemulihan. Dengan kondisi akuntabilitas terbatas, artinya setiap kali ada masalah maka pasar bisa diguncang dan ada kemungkinan menciptakan volatilitas yang artinya ada keuntungan,” tuturnya.
Bagi Indonesia, lanjutnya, dampaknya adalah pada tekanan atas mata uang, biaya pinjaman lebih tinggi, dan ruang fiskal yang menyusut. Artinya bukan karena negara kita bangkrut, melainkan karena indeks.
Indonesia bisa belajar dari Amerika Serikat ketika menyelesaikan krisis akibat Enron dan WorldCom maupun Ketika bank-bank Eropa direkapitalisasi dan melakukan reformasi sehingga modal tidak lenyap karena adanya jaring pengaman institusional.
“Nah pasar modal di negara berkembang, seperti Indonesia jarang memiliki jaring pengaman temporal semacam itu. Masuknya Danantara ke BEI tidak lepas dari upaya mendukung transformasi pasar modal nasional serta penguatan tata kelola bursa,” pungkasnya.(chm)