- Pexels/Artem Podrez
Investor Baru di Pasar Modal RI Melonjak, PT IIM: Momentum Penguatan Reksa Dana Pendapatan Tetap
Jakarta, tvOnenews.com - Industri pasar modal Indonesia tahun ini menunjukkan perkembangan positif. Hal itu terlihat dari peningkatan signifikan jumlah investor baru yang masuk ke pasar modal nasional.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga September 2025 tercatat ada sebanyak 643 ribu investor baru.
Secara kumulatif, jumlah investor pasar modal bertambah 3,79 juta secara year to date (ytd), sehingga totalnya mencapai 18,66 juta investor. Angka tersebut menandakan pertumbuhan 25,50 persen secara tahunan (year on year).
Peningkatan basis investor yang pesat ini menjadi sinyal positif bagi industri reksa dana, terutama bagi produk-produk berisiko rendah yang tengah diminati investor pemula.
Merespons hal itu, Direktur PT Insight Investments Management (PT IIM), Ria M. Warganda, menyebut peningkatan jumlah investor baru menjadi momentum penting bagi perkembangan reksa dana di Indonesia.
“Pertumbuhan jumlah investor yang pesat menunjukkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap instrumen pasar modal. Kami melihat hal ini sebagai momentum untuk mendorong peningkatan AUM reksa dana, khususnya di segmen pendapatan tetap yang memiliki karakter cenderung stabil dan sesuai dengan profil risiko investor baru,” ujar Ria dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (1/11/2025).
Per September 2025, total Dana Kelolaan (AUM) industri reksa dana nasional mencapai Rp581,19 triliun. Dari jumlah tersebut, reksa dana pendapatan tetap mencatat pertumbuhan tertinggi secara year to date sebesar 36,78 persen.
Ria menjelaskan bahwa peningkatan dana kelolaan itu menunjukkan kepercayaan investor terhadap reksa dana pendapatan tetap di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut.
“Dalam situasi yang dinamis, investor cenderung memilih instrumen dengan risiko yang lebih terukur, sehingga mendorong arus masuk ke reksa dana pendapatan tetap,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bahwa tren positif tersebut sejalan dengan penguatan pasar obligasi domestik pada September 2025, setelah Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan.
“Bank Indonesia memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,75% pada September 2025, langkah yang mencerminkan arah kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Tren penurunan suku bunga ini umumnya berdampak positif bagi pasar obligasi, karena mendorong kenaikan harga obligasi dan memperkuat prospek kinerja instrumen pendapatan tetap. Dengan demikian, peluang imbal hasil reksa dana pendapatan tetap ke depan menjadi semakin menarik bagi investor,” jelas Ria.
Menurut Ria, kombinasi antara meningkatnya basis investor dan kebijakan suku bunga yang lebih longgar menjadi katalis penting bagi penguatan kinerja reksa dana pendapatan tetap hingga akhir tahun.
“Kami melihat produk berbasis obligasi akan tetap atraktif karena menawarkan keseimbangan antara potensi imbal hasil dan stabilitas. Dalam kondisi seperti ini, reksa dana pendapatan tetap memiliki posisi strategis untuk memberikan hasil yang kompetitif di tengah tren penurunan suku bunga,” lanjutnya.
Selain faktor ekonomi makro, Ria menekankan pentingnya literasi dan edukasi keuangan agar pertumbuhan investor baru disertai peningkatan pemahaman investasi yang memadai.
“Tantangan ke depan bukan hanya menarik investor baru, tetapi juga memastikan mereka memiliki pemahaman tentang profil risiko dan horizon investasi yang sesuai. Karena itu, kami di PT IIM terus memperkuat inisiatif literasi pasar modal melalui berbagai kanal digital dan program edukasi,” jelas Ria.
PT IIM Catat Peningkatan Dana Kelolaan Reksa Dana Pendapatan Tetap
Sejalan dengan tren industri, PT IIM juga mencatat pertumbuhan dana kelolaan pada produk reksa dana pendapatan tetap. Hingga 30 September 2025, AUM produk tersebut tumbuh lebih dari 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan kepercayaan investor terhadap instrumen berisiko terukur.
“Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa semakin banyak investor yang memahami karakter instrumen pendapatan tetap sebagai pilihan ideal di tengah dinamika pasar. Kami melihat pola yang sehat, di mana investor mulai menyeimbangkan antara potensi imbal hasil dan risiko dengan lebih matang,” ujar Ria.
PT IIM sendiri turut mencatat kinerja yang solid pada produk reksa dana pendapatan tetapnya. Pertumbuhan tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi makro, tetapi juga meningkatnya kesadaran investor terhadap konsep value investing, yakni strategi investasi yang berfokus pada nilai intrinsik dan prospek jangka panjang.
“Investor kini semakin rasional dalam menentukan strategi investasinya. Pemahaman terhadap value investing mendorong mereka untuk melihat peluang dari instrumen yang memiliki fundamental kuat dan stabilitas kinerja, seperti reksa dana pendapatan tetap,” jelasnya lagi.
Salah satu produk unggulan PT IIM, Reksa Dana Fixed Income Insight TRIM Golf Pro Acceleration Fund (I-GOLF) yang diluncurkan pada 5 Februari 2025, mencatat performa kuat hingga akhir kuartal ketiga tahun ini.
Berdasarkan data Infovesta, per 30 September 2025, Reksa Dana I-GOLF Kelas B mencatat imbal hasil enam bulan sebesar 7,94 persen, melampaui benchmark di level 5,65 persen.
“Dengan karakter yang stabil, reksa dana pendapatan tetap akan tetap menjadi pilihan strategis bagi investor yang mengutamakan keseimbangan antara risiko dan imbal hasil. Kami percaya segmen ini memiliki ruang pertumbuhan yang kuat, didukung oleh basis investor yang semakin luas dan kesadaran yang tumbuh terhadap pentingnya investasi jangka panjang yang bernilai,” tutup Ria. (rpi)