- FSPPB
Presiden FSPPB Khawatirkan Peran Pertamina di Danatara, Rosan Roeslani Bilang Begini
tvOnenews.com, Jakarta - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) sebagai lembaga strategis untuk mengonsolidasikan serta mengoptimalkan investasi pemerintah lewat BUMN.
Langkah ini digadang-gadang sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara terstruktur dan efisien. Namun suara kekhawatiran juga datang dari kalangan pekerja, khususnya Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB).
Dalam sebuah kuliah umum bertajuk “Holding Danantara dan Implikasinya ke Pertamina” yang digelar di kantor FSPPB, Jakarta, Rabu (30/4/2025), Presiden FSPPB Arie Gumilar secara terbuka mempertanyakan urgensi dan arah dari pembentukan badan tersebut.
"Apakah memang kita perlu adanya Danantara? Jangan-jangan Danantara hanya sebuah instrumen yang dibuat untuk membayar atau melunasi hutang-hutang negara," kata Arie di hadapan peserta kuliah umum yang menghadirkan ekonom senior Ichsanuddin Noorsy sebagai pembicara.
- Ammar Ramzi
Kekhawatiran atas Aset Negara dan Kepentingan Publik
Menurut Arie, skema pengelolaan BUMN melalui Danantara dikhawatirkan akan membuka celah besar bagi masuknya kepentingan kapitalis dan liberal ke dalam pengelolaan aset negara.
Ia juga menyoroti rencana pengalihan saham Seri B dari BUMN seperti Pertamina ke holding Danantara sebagai bentuk "korporatisasi terselubung" atas aset strategis bangsa.
“Pertamina itu mengelola hajat hidup orang banyak. Harusnya dikelola langsung oleh negara, bukan masuk dalam skema korporatisasi seperti ini,” tegas Arie.
Ia juga mengingatkan bahwa hingga saat ini, Pertamina masih mengemban tugas negara untuk mengelola subsidi energi seperti BBM dan Elpiji dalam skema Public Service Obligation (PSO).
Oleh karena itu, pengalihan kepemilikan saham ke lembaga baru dianggap bisa melemahkan fungsi sosial Pertamina.
- Antara
Seruan Evaluasi terhadap Danantara
Dalam pernyataannya, Arie mengajak pemerintah untuk mengevaluasi kembali keikutsertaan BUMN strategis dalam Danantara, termasuk PLN, Bulog, dan BUMN lainnya yang bertugas memenuhi kebutuhan dasar rakyat.
Ia menilai, lembaga-lembaga tersebut seharusnya dikelola langsung negara, bukan melalui badan investasi dengan orientasi korporat.
“Kami menyatakan bahwa Federasi (FSPPB) berjuang supaya pemerintah mempertimbangkan kembali masuknya Pertamina, PLN, Bulog, dan BUMN-BUMN lain ke dalam Danantara. Bahkan, kami mendorong evaluasi menyeluruh terhadap keberadaan Danantara itu sendiri,” pungkas Arie.
Peluncuran Danantara memang membawa harapan akan tata kelola investasi nasional yang lebih terintegrasi. Namun, suara-suara dari akar rumput, terutama dari para pekerja di BUMN, mengingatkan bahwa keberlanjutan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari kedaulatan negara atas aset publik.
Rosan Roeslani Pastikan Pertamina di Danantara Gunakan Dual Growth Strategy
- Tim tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Sementara itu petinggi Danantara Indonesia mengadakan pertemuan dengan jajaran direksi dan komisaris PT Pertamina (Persero) pada Rabu, 24 April 2025 lalu.
Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh CEO Danantara Rosan Roeslani, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri, dan Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan.
Dalam unggahan resmi Rosan di akun Instagram pribadinya, ia menyampaikan apresiasi terhadap performa bisnis dan keuangan Pertamina yang terus menunjukkan tren positif.
“Pertamina memaparkan performa bisnis dan keuangan yang kian positif, sehingga kontribusi pada penerimaan negara terus terjaga,” tulis Rosan di akun @roesanroeslani, Sabtu (26/4/2025).
Rosan menegaskan bahwa Danantara memiliki komitmen kuat untuk mendorong sinergi dan peran strategis Pertamina, terutama dalam mendukung misi besar Indonesia menjaga keterjangkauan dan ketahanan energi di tengah dinamika global.
“Demi memastikan keterjangkauan dan ketahanan energi di masa mendatang,” kata dia.
Melalui unggahan di akun resmi @danantara.indonesia, pertemuan tersebut turut membahas proses transformasi Pertamina sejak 2021, yang telah menghasilkan kinerja konsisten dan struktur korporasi yang semakin efisien.
Saat ini, Pertamina tercatat memiliki 6 subholding dan mengelola lebih dari 260 entitas bisnis, menjadikannya sebagai tulang punggung sektor energi nasional.
Pertamina dilaporkan tetap menjadi kontributor besar bagi penerimaan negara dengan total kontribusi yang melampaui Rp 300 triliun per tahun, terutama dari sektor pajak, di luar dividen dan pos lainnya.
Selain performa keuangan, pembicaraan juga menyentuh peran strategis Pertamina dalam transisi energi global, sebuah isu yang kini menjadi fokus perhatian berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dua Strategi Pertumbuhan dan Fokus Energi Hijau
- Tim tvone - tim tvone
Dalam pertemuan tersebut, Danantara juga berkomitmen menjalankan dual growth strategy (Dua strategi pertumbuhan) di Pertamina, sebuah pendekatan pertumbuhan ganda untuk memperkuat sektor energi nasional. Strategi ini mencakup:
- Penguatan produksi migas domestik demi meningkatkan kemandirian energi
- Digitalisasi layanan energi untuk mendekatkan akses kepada masyarakat
- Peningkatan bauran biofuel, sebagai bagian dari langkah nyata menuju transisi energi berkelanjutan
“Danantara berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan BUMN yang berdaya saing global dengan pendekatan profesional, transparan, dan akuntabel,” demikian disampaikan dalam unggahan resmi @danantara.indonesia.