- istimewa - Antara
Efek Mengerikan Konflik Timur Tengah, Harga Minyak Jadi Fantastis
Negara-negara Teluk dilaporkan berusaha menjaga posisi netral dalam konflik ini, guna melindungi fasilitas minyak mereka dari ancaman serangan.
Sementara itu, militer Israel telah memerintahkan evakuasi warga di lebih dari 20 kota di Lebanon selatan, menyusul serangan terhadap Hezbollah yang didukung Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Iran akan membayar atas serangan rudal terhadap Israel yang terjadi pada Selasa (1/10/2024), sementara Iran memperingatkan bahwa setiap pembalasan akan dihadapi dengan "kehancuran besar-besaran."
Meningkatnya ketegangan ini semakin memperkuat kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global, terutama dari Iran. Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti, menegaskan bahwa potensi gangguan pasokan semakin tinggi seiring dengan eskalasi konflik.
Di tengah ketegangan ini, kabar baik datang dari Libya, di mana National Oil Corp (NOC) telah mencabut status force majeure di seluruh ladang dan terminal minyaknya, memberikan harapan bahwa krisis yang telah memangkas produksi minyak di negara tersebut dapat segera berakhir.
Sementara itu, stok minyak mentah di AS tercatat meningkat 3,9 juta barel pada pekan yang berakhir 27 September, jauh lebih tinggi dari prediksi penurunan sebesar 1,3 juta barel.
Analis ANZ menyatakan bahwa peningkatan stok ini menunjukkan pasar minyak global masih cukup terjaga, meskipun ada potensi gangguan pasokan.
Meskipun demikian, OPEC diyakini memiliki kapasitas cadangan minyak yang cukup untuk menutupi potensi kehilangan pasokan dari Iran, jika situasi semakin memburuk. (aag)