- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Tradisi Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta, Ribuan Warga Rebutan Gunungan 'Ngalap' Berkah Lebaran
Yogyakarta, tvOnenews.com - Perayaan 1 Syawal di Keraton Yogyakarta kembali diramaikan dengan tradisi Grebeg Syawal yang menjadi magnet bagi ribuan warga.
Sejak pagi, masyarakat dari berbagai daerah telah memadati kawasan Keraton Yogyakarta hingga Masjid Gedhe Kauman untuk menyaksikan prosesi kirab gunungan.
Tradisi ini diawali dengan iring-iringan bregada prajurit dan gunungan yang disusun dari hasil bumi seperti sayuran dan wajik.
Gunungan tersebut kemudian diarak oleh para abdi dalem dari dalam keraton menuju pelataran masjid. Selesai didoakan oleh sesepuh, gunungan langsung jadi bahan rebutan masyarakat.
Mulai Grebeg Syawal Dal 1959, peragaan gajah tidak akan berpartisipasi dalam iring-iringan kirab gunungan. Hal ini selaras dengan Surat Edaran Nomor 6 Tahun 2025 tentang Penghentian Peragaan Gajah Tunggang di Lembaga Konservasi dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan.
Penghageng II Kawedanan Widya Busana, KRT Rinta Iswara menyampaikan bahwa Grebeg Syawal merupakan salah satu upacara yang hingga saat ini rutin dilaksanakan oleh Keraton Yogyakarta.
"Grebeg yang dilakukan oleh keraton adalah hajad dalem, sebuah upacara budaya yang diselenggarakan oleh keraton dalam rangka memperingati hari besar Agama Islam yakni Idulfitri, Iduladha dan Maulid Nabi Muhammad," tuturnya, Jumat (20/3/2026).
Lebih lanjut, tradisi gunungan ini sebagai perwujudan kemakmuran keraton atau pemberian dari raja kepada rakyatnya.
Dengan demikian, makna Grebeg Syawal adalah perwujudan rasa syukur akan datangnya Idulfitri yang diwujudkan dengan memberikan rezeki pada masyarakat melalui uborampe gunungan yang berupa hasil bumi dari tanah Mataram.
Pada Grebeg Syawal Dal 1959 ini, Keraton Yogyakarta juga mencoba melakukan revitalisasi pada ageman atau busana Kanca Kaji saat menghadiri upacara besar seperti Grebeg ini.
Jika busana padintenan atau sehari-harinya menggunakan atela warna putih, busana kebesarannya akan berbeda.
Untuk pangkat Wedana menggunakan sikepan warna hitam. Sedangkan untuk pangkat Bekel dan Wedana menggunakan jubah warna kehijauan.
"Kami berkomitmen selalu menghadirkan hal yang baru disetiap prosesi Grebeg, baik inovasi maupun yang sifatnya revitalisasi. Hal ini sejalan dengan semangat pelestarian kebudayaa di Keraton Yogyakarta," ucap Nyi RP. Lukitaningrumsumekto yang menjadi penanggungjawab busana prajurit dan abdi dalem Keraton Yogyakarta.