- Nuryanto
Ribuan Warga Berebut Gunungan Keraton Yogyakarta Pada Tradisi Garebeg Besar Peringati Iduladha 1444 H
Di Masjid Gedhe, setelah didoakan, akan ada dua buah gunungan yang dibawa menuju Pura Pakualaman dan Kompleks Kepatihan. Penghageng Kawedanan Kaprajuritan KPH Notonegoro, menyampaikan bahwa di sisi lain, terdapat 10 Bregada Prajurit Keraton yang akan mengawal gunungan.
“Sepuluh bregada tersebut yakni yakni Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero, Nyutra, Bugis, dan Surakarsa. Bregada Bugis akan mengawal gunungan hingga Kepatihan.
"Sementara gunungan untuk Pura Pakualaman akan dikawal oleh Prajurit Pura Pakualaman yakni Dragunder dan Plangkir,” jelas Kanjeng Noto, sapaannya.
Adapun seperti Garebeg Sawal lalu, sekelompok Abdi Dalem Mataya (penari) Kridhamardawa juga akan dilibatkan menjadi bagian dari Prajurit Nyutra Towok.
“Keterlibatan ini merupakan sebuah pengingat bahwasanya prajurit Nyutra dulunya beranggotakan para penari Keraton yang mengawal Sultan dengan menari tayungan selama prosesi,” tutup Kanjeng Noto, Rabu (28/6/2023).
Seperti pelaksanaan Garebeg pada umumnya, terdapat lima jenis gunungan yang dibagikan. Kelima jenis itu adalah Gunungan Kakung, Gunungan Estri/Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Dharat, dan Gunungan Pawuhan. Gunungan tersebut akan dikeluarkan secara berurutan dari Keraton sesuai dengan urutan tersebut di atas.
Akan ada tiga Gunungan Kakung, peruntukannya masing-masing untuk Masjid Gedhe, Pura Pakualaman, dan Kepatihan. Sementara yang lainnya masing-masing berjumlah satu buah dan ikut dirayah di Masjid Gedhe, bersama dengan satu Gunungan Kakung.
Usai didoakan warga pun langsung bergerak mendekat Gunungan untuk mendapatkan gunungan tersebut. Salah satunya Yosan, pelajar yang mengaku berdesak-desakan dan cukup susah mendapatkan saat berebut Gunungan.
"Saya seneng sekali dapat ini mas. Soale tadi berdesakan. Saya datang dari Bantul," jelasnya.
Hal yang sama juga disampaikan Warti, warga Gamping Sleman yang mengaku sejak pagi telah datang ke lokasi halaman Masjid Gede Kauman.
"Saya.dari pagi, jam 9an. Alhamdulillah masih dapat ini, nanti buat di rumah aja," jelasnya.
Sementara Venti, warga yang rumahnya tak jauh dari Masjid Gedhe Kauman juga harus berdesak-desakan untuk.memperoleh beberapa hasil bumi dari Gunungan.
"Saya bisa masuk aja, ya tadi tetap berdesakan mas. Ini nanti buat dimasak aja. Alhamdulillah. Rumah saya deket cuma belakang masjid," jelas Venti.