- PSSI
Fakta 5 Pencetak Gol Jepang vs Indonesia: Main di Eropa, Gaji Puluhan Miliar Rupiah!
Jakarta, tvOnenews.com – Laga Timnas Indonesia melawan Jepang di Stadion Suita, Osaka, Selasa malam (10/6/2025), menjadi ajang pembuktian perbedaan level antara dua raksasa Asia dari belahan yang berbeda.
Jepang menang telak 6-0 dalam pertandingan terakhir putaran kedua Kualifikasi Piala Dunia 2026. Gol-gol Jepang dicetak oleh Daichi Kamada (2 gol), Takefusa Kubo, Ryoya Morishita, Shuto Machino, dan Mao Hosoya.
Meski menelan kekalahan menyakitkan, semangat para pemain Indonesia tetap terlihat. Shin Tae-yong memberi apresiasi pada perjuangan Marselino, Jordi Amat, hingga Ernando Ari yang tetap berjuang meski tertinggal. Kapten Asnawi Mangkualam menyebut laga ini sebagai pelajaran penting untuk menghadapi babak keempat yang lebih berat.
Namun sorotan tak hanya pada skor, melainkan juga kelas individu para pencetak gol Jepang—yang nilainya selangit, baik dari sisi teknis, ekonomi, maupun posisi mereka di klub Eropa.
Daichi Kamada: Mesin Serang yang Gratis Tapi Mahal
Dua gol Kamada menegaskan statusnya sebagai pemain top. Meski hijrah ke Crystal Palace secara gratis dari Lazio pada Juli 2024, gajinya menembus £5,46 juta per tahun (lebih dari Rp110 miliar).
Ia bersinar saat membawa Eintracht Frankfurt menjuarai Liga Europa dan kini bernilai €12 juta, naik drastis dari transfer awalnya sebesar €1,6 juta dari Sagan Tosu.
Takefusa Kubo: “Messi dari Jepang” yang Ditaksir Bayern & Liverpool
Eks wonderkid Barcelona dan Real Madrid ini kini menjadi pilar Real Sociedad. Kubo tampil brilian dengan satu gol dan satu assist. Nilai pasarnya €40 juta, tertinggi di lapangan.
Real Madrid bahkan masih memegang 50% hak jualnya dan menyematkan klausul rilis sebesar €60 juta. Gajinya di Sociedad berkisar €2,5 juta per tahun, dan kabarnya tengah dipantau oleh Bayern Munich dan Liverpool.
Ryoya Morishita: Bek Mahal dari Polandia
Pencetak gol keempat Jepang ini adalah bek sayap yang bermain untuk Legia Warszawa. Morishita hijrah dari Nagoya Grampus ke Polandia, membawa semangat ekspor pemain Jepang ke Eropa. Ia dikontrak hingga 2028 dan kini bernilai sekitar €2,5–3 juta. Pergerakannya di sisi sayap sangat merepotkan pertahanan Garuda.
Shuto Machino: Bomber Liga 2 Jerman, Tajam di Asia
Striker Holstein Kiel di Bundesliga 2 ini mencetak gol kelima Jepang. Meski hanya digaji sekitar €420 ribu per tahun, Machino mencetak 11 gol musim ini dan punya market value €6,3 juta. Ia adalah bukti bagaimana striker Asia bisa bersinar di liga Eropa jika diberi ekosistem yang mendukung.
Mao Hosoya: Bintang Lokal Kashiwa Reysol yang Bersinar
Gol penutup Jepang datang dari Hosoya, pemain muda berusia 23 tahun dari Kashiwa Reysol. Dengan market value €1,6 juta dan gaji sekitar €104 ribu per tahun, Hosoya menunjukkan bahwa Jepang memiliki talenta lokal siap ekspor. Ia telah mencetak 4 gol dari 17 penampilan musim ini di J1 League.
Catatan Akhir: Dari Kekalahan ke Kesempatan
Skor 6-0 memang berat, tapi angka-angka di balik pemain Jepang justru membuka mata: Indonesia masih tertinggal dalam sistem, bukan hanya dalam permainan. Perbedaan nilai pasar dan gaji para pemain mencerminkan kesenjangan dalam pengembangan pemain, investasi liga domestik, dan koneksi global.
Namun, Indonesia lolos ke babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026—sebuah prestasi penting dan titik tolak untuk berkembang lebih lanjut. Dari kekalahan ini, Garuda bisa belajar bagaimana negara seperti Jepang memoles talenta menjadi aset global bernilai jutaan euro.
Nilai total pasar lima pencetak gol Jepang: lebih dari €60 juta. Nilai seluruh skuad Indonesia? Masih setengahnya—tapi proses sedang berjalan. (nsp)