Bukan Tanpa Alasan, Legenda Persebaya Ungkap Duet Rafael Struick dan Ole Romeny Layak Jadi Tumpuan Lawan China!
tvOnenews.com - Menjelang laga krusial melawan China dalam lanjutan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, Timnas Indonesia tengah mencari komposisi terbaik untuk mengisi lini serang.
Pertandingan yang akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, menjadi sangat vital bagi skuad Garuda.
Target menang tak bisa ditawar lagi demi membuka peluang lolos ke babak berikutnya.
Namun, Indonesia mendapat kendala besar dengan absennya Marselino Ferdinan.
Gelandang serang muda andalan Indonesia ini harus menepi akibat akumulasi kartu kuning.
Absennya Marselino membuat publik bertanya-tanya, siapa yang bakal menjadi motor serangan menggantikannya?
Di tengah spekulasi ini, nama dua penyerang muda Rafael Struick dan Ole Romeny mencuat sebagai duet yang dinilai paling layak mengisi lini depan.
Sosok yang turut mengusulkan duet ini adalah Djoko Malis Mustafa, striker legendaris yang pernah memperkuat Persebaya dan Niac Mitra di era 1980-an.
Djoko Malis yang dikenal sebagai pengamat tajam tak ragu menyebut bahwa duet Rafael Struick dan Ole Romeny punya potensi besar menjadi juru gedor utama Timnas Indonesia saat menghadapi China.
"Posisi dua striker, saya kok cenderung tertarik menduetkan Rafael Struick dan Ole Romeny. Alasan saya, karena mereka memiliki naluri gol sangat baik," ujar Djoko Malis.
Menurut Djoko, meskipun karakter kedua pemain ini berbeda, hal itu justru bisa menjadi kekuatan.
Rafael dikenal memiliki kecepatan dan mobilitas tinggi, sedangkan Ole Romeny adalah tipikal penyerang yang lebih klinis di dalam kotak penalti.
Kombinasi itu, menurutnya, bisa saling melengkapi tergantung dinamika permainan di lapangan.
Sementara itu, di sektor sayap, Djoko Malis juga memberikan masukan penting.
Ia menjagokan Yakob Sayuri untuk mengisi posisi sayap kanan karena kecepatan dan kemampuan individunya dalam melewati lawan dinilai sangat dibutuhkan untuk strategi serangan balik cepat.
"Sayap kanan, saya cenderung memilih Yacob Sayuri. Skill-nya bagus dan punya kecepatan. Ini dibutuhkan ketika Timnas Indonesia menyerang balik cepat lewat sayap," katanya.
Legenda Persebaya ini juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kedua sisi lapangan.
Menurutnya, sayap kanan dan kiri harus sama-sama aktif agar penyerangan Timnas Indonesia tidak terpaku pada satu sisi saja.
Selain itu, sektor gelandang harus mampu menyuplai bola secara efektif dan cerdas ke para penyerang.
“Lini depan harus dapat dukungan bagus dari sektor tengah. Di sini dibutuhkan keseimbangan dua sayap serang dan kepintaran gelandang mensuplai bola,” ucapnya.
Untuk urusan taktik, Djoko Malis menyoroti pentingnya transisi permainan yang cepat.
Ia menyarankan agar formasi dasar 3-4-3 Timnas Indonesia bisa berubah menjadi 2-3-5 ketika menyerang, sehingga jumlah pemain di lini depan bisa lebih banyak dan memberikan tekanan masif ke pertahanan lawan.
“Untuk bermain seperti itu, Timnas Indonesia harus punya transisi cepat. Saat menyerang formasi 3-4-3 bisa berubah menjadi 2-3-5. Tapi, wing back juga harus cepat turun untuk membantu pertahanan jadi formasi 5-3-2 atau 5-4-1,” ujarnya.
Dalam konteks transisi ini, Djoko melihat bahwa Indonesia punya stok pemain yang sesuai.
Di posisi full back kanan, ada Kevin Diks atau Asnawi Mangkualam yang bisa bergerak naik-turun dengan cepat.
Sementara di sisi kiri, pilihan jatuh pada Calvin Verdonk yang juga punya daya jelajah tinggi.
“Berikutnya secara otomatis Yakob Sayuri, Rafael Struick atau Ole Romeny yang turun ke tengah. Tergantung sisi mana yang diserang China. Ini yang harus dimatangkan Patrick Kluivert pada TC di Bali,” tambah Djoko.
Pernyataan dari Djoko Malis ini tentu menjadi sorotan tersendiri menjelang laga hidup-mati Timnas Indonesia.
Kombinasi racikan pemain diaspora dan lokal akan menjadi faktor penentu apakah strategi pelatih baru Patrick Kluivert akan sukses menembus dominasi China di grup ini. (adk)