- instagram Cole Palmer
Alamak! Cole Palmer, 'Ngebet' Bela Manchester United: London berbeda dengan Manchester, Melakukan Banyak Hal Sendiri, Itu Sulit
Saat membela tim nasional Inggris, ia mengatakan: “London berbeda dengan Manchester, dalam hal ukurannya, dan di luar lapangan melakukan banyak hal sendiri, itu sulit.”
Kini hampir tiga tahun berlalu, namun musim ini justru menjadi periode paling frustrasi dalam kariernya.
Cedera menghambat konsistensi Palmer, membuatnya hanya tampil dua kali dari delapan laga Liga Champions dan menjadi starter dalam 10 dari 23 pertandingan Premier League. Ia hanya tiga kali bermain penuh selama 90 menit.
Situasi ini membuat perkembangannya terhambat dan bahkan mengancam posisinya di skuad Piala Dunia Inggris.
Meski kerap pulang ke Manchester untuk bertemu keluarga dan teman, kepindahan permanen masih jauh dari kenyataan, terutama di tengah padatnya agenda bursa transfer.
Tiga Rintangan Besar di Bursa Transfer Musim Ini
Secara realistis, transfer Palmer ke Manchester United menghadapi tiga hambatan utama. Pertama, status kontraknya.
Palmer masih terikat kontrak jangka panjang bersama Chelsea hingga tahun 2033, menjadikannya aset strategis klub London tersebut.
Kedua, performa dan nilai pasarnya. Meski musim ini terganggu cedera, Palmer tetap dianggap salah satu talenta menyerang terbaik di Inggris.
Ia bahkan telah mencetak empat gol ke gawang Manchester United sejak berseragam Chelsea, sebuah ironi yang justru menegaskan kualitasnya.
Ketiga, sikap Chelsea sendiri. Pelatih kepala baru The Blues, Liam Rosenior, secara tegas membantah rumor kepindahan Palmer ke Old Trafford.
“Tidak ada alasan untuk jaminan. Itu sangat tidak realistis. Itu muncul entah dari mana. Tidak ada apa-apa di dalamnya. Tidak ada alasan untuk membicarakannya,” kata Rosenior.
“Cole sangat senang. Saya telah melakukan banyak percakapan dengannya. Pikiran kami adalah bagaimana kami dapat mewujudkan ini.”
Dengan kondisi bursa transfer musim ini yang penuh persaingan dan kehati-hatian finansial, kembalinya Cole Palmer ke Manchester tampak hampir mustahil.
Namun, seperti banyak kisah besar dalam sepak bola, impian itu mungkin belum mati, hanya menunggu waktu dan situasi yang tepat. (udn)