- Instagram @maurozijlstra
Blak-blakan Pengamat soal Fenomena Pemain Diaspora Eropa yang Pulang Kampung ke Super League Indonesia: Mereka Sulit Bersaing di Luar
Jakarta, tvOnenews.com - Pengamat sepak bola nasional Mohamad Kusnaeni menilai fenomena pemain diaspora yang merapat ke klub-klub Super League Indonesia sebagai proses yang wajar dalam dinamika karier profesional.
Menurutnya, sebagian besar pemain yang memilih hengkang memang sedang berada dalam situasi sulit di klub sebelumnya.
“Saya melihat ini proses yang alamiah,” ujar Kusnaeni seperti dikutip dari Antara. “Artinya pemain-pemain yang pindah itu umumnya tidak mampu bersaing di negara lain, di level klub yang lebih tinggi,” katanya menjelaskan.
Sejak awal musim 2025, sejumlah pemain berdarah Indonesia memutuskan pulang dan bergabung dengan klub Liga Indonesia. Di antaranya Jordi Amat yang hengkang dari Johor Darul Ta'zim ke Persija Jakarta serta Rafael Struick yang meninggalkan Brisbane Roar untuk memperkuat Dewa United.
Selain itu, Jens Raven berpindah dari FC Dordrecht ke Bali United. Sementara Thom Haye dari Almere City FC dan Eliano Reijnders dari PEC Zwolle memilih berlabuh di Persib Bandung.
Pergerakan itu berlanjut pada pertengahan musim ketika Shayne Pattynama meninggalkan Buriram United dan bergabung dengan Persija. Bek muda Dion Markx juga menyusul dari TOP Oss ke Persib.
Nama lain yang ikut meramaikan bursa transfer adalah Mauro Zijlstra yang sebelumnya membela FC Volendam di Eredivisie musim 2025/2026. Ia sepakat menandatangani kontrak berdurasi dua setengah tahun bersama Persija, sementara Ivar Jenner meninggalkan FC Utrecht untuk bergabung dengan Dewa United.
Kusnaeni menilai keputusan mereka tak lepas dari kebutuhan dasar seorang pesepak bola, yakni bermain secara reguler. “Karena pemain itu kalau kelamaan tidak bermain, hanya duduk di bangku cadangan, kemampuannya bisa menurun,” ujarnya.
Ia menambahkan, para pemain dihadapkan pada pilihan sulit antara bertahan di Eropa tanpa kepastian menit bermain atau mencoba tantangan baru di Indonesia. “Mereka bisa tetap di luar negeri, tapi kalau tidak mendapat kesempatan tampil, itu juga berisiko bagi karier,” katanya.
Lebih jauh, Kusnaeni membedakan para pemain diaspora berdasarkan fase karier masing-masing. Ada yang sudah melewati usia emas seperti Jordi Amat, Shayne Pattynama, dan Thom Haye, tetapi ada pula yang masih merintis karier profesional seperti Jens Raven dan Mauro Zijlstra.