- Instagram - Malaysia NT
Media Vietnam Bongkar Nasib Buruk Timnas Malaysia, Puluhan Pelatih Dipecat Tanpa Alasan yang Jelas
Jakarta, tvOnenews.com - Sepak bola usia muda Malaysia tengah dilanda kekacauan menyusul kabar pemutusan kontrak terhadap 26 pelatih yang tergabung dalam Program Pengembangan Sepak Bola Nasional (National Football Development Programme/NFDP) dan Akademi Mokhtar Dahari (AMD).
Pemutusan kontrak tersebut disebut dilakukan secara tiba-tiba, tanpa kejelasan prosedur, serta hampir tanpa pemberitahuan resmi sebelumnya. Kondisi ini memicu keresahan di kalangan pelatih yang selama ini berperan penting dalam pembinaan pemain muda Malaysia.
Berdasarkan temuan media Vietnam, thethao, para pelatih terdampak menerima pemberitahuan pemutusan kontrak melalui surat elektronik (email) pada hari ini. Hingga kini, dokumen resmi terkait penghentian kerja tersebut belum diterima para pelatih.
Sebelumnya, ke-26 pelatih yang terdiri dari 14 pelatih yang bertugas di Amerika Serikat dan 12 pelatih di Akademi Mokhtar Dahari hanya mendapatkan pemberitahuan awal dalam sebuah pertemuan daring melalui Google Meet pada 15 Desember lalu. Setelah pertemuan tersebut, tidak ada penjelasan lanjutan maupun instruksi resmi yang disampaikan.
Sejumlah pelatih menilai keputusan pemutusan kontrak itu tidak sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam perjanjian kerja, khususnya terkait masa pemberitahuan. Situasi ini menimbulkan kecemasan di kalangan pelatih yang telah mendedikasikan sebagian besar karier mereka untuk pengembangan sepak bola usia muda.
Salah satu pelatih yang terdampak mengaku kebingungan dan merasa ditinggalkan tanpa kejelasan.
“Kami tidak tahu harus meminta bantuan ke mana. Kami tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi pada kami dan bahkan tidak tahu lembaga pemerintah mana yang harus dihubungi untuk mendapatkan dukungan atau nasihat. Kami adalah pelatih, hanya mahir bekerja di lapangan, dan ketika hal-hal seperti ini terjadi, kami benar-benar ditinggalkan dalam kegelapan,” ujar salah satu pelatih.
Ia menambahkan, para pelatih telah meninjau kontrak kerja masing-masing, namun masih menemukan banyak klausul yang belum jelas dan membutuhkan pendampingan hukum.
“Kami sudah meninjau kontrak-kontrak tersebut, tetapi ada banyak poin yang belum jelas. Nasihat hukum akan membantu kami menentukan langkah selanjutnya,” ujarnya.
Kebingungan semakin bertambah lantaran para pelatih menerima saran yang berbeda-beda terkait langkah hukum yang bisa ditempuh.
“Ada yang menyarankan membawa kasus ini ke Pengadilan Industrial, ada pula yang menyarankan menghubungi Departemen Tenaga Kerja atau Departemen Hubungan Industrial. Kami masih sangat bingung dan berharap mendapatkan dukungan,” tuturnya.
Meski memahami bahwa pemutusan kontrak merupakan bagian dari dinamika sepak bola, para pelatih menilai jangka waktu pemberitahuan yang sangat singkat tidak dapat diterima.
“Kami mengerti pemutusan kontrak adalah bagian dari sepak bola, tetapi pemutusan kontrak kurang dari satu bulan sungguh sulit. Sebagian besar dari kami fokus pada pelatihan dan tidak punya cukup waktu untuk mencari pekerjaan baru,” katanya.
Kasus ini diperkirakan masih akan terus bergulir dan menjadi sorotan dalam waktu dekat. Para pelatih disebut tengah mempertimbangkan langkah hukum lebih lanjut untuk melindungi hak-hak mereka sesuai ketentuan yang berlaku.