news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Dari Mana Saja Pemain yang Bawa Negara Berpopulasi 500 Ribu itu Lolos Piala Dunia.
Sumber :
  • Federasi Sepak Bola Tanjung Verde

Populasi Tanjung Verde Setara Cimahi, Ini Cara Negara Berpopulasi 500 Ribu itu Lolos Pertama Kali Piala Dunia 2026

Sebanyak 25 pemain yang dipilih oleh pelatih Tanjung Verde, Bubista membuat mimpi 500 ribu lebih masyarakat Tanjung Verde ke Piala Dunia terwujud.
Selasa, 14 Oktober 2025 - 21:42 WIB
Editor :

Jakarta, tvonenews.com - Tanjung Verde akan mencatatkan debut dengan tampil di Piala Dunia untuk pertama kali dalam sejarah. Tanjung Verde dipastikan lolos ke Piala Dunia 2026 setelah menaklukkan Eswantini.

Sebanyak 25 pemain yang dipilih oleh pelatih Tanjung Verde, Bubista membuat mimpi 500 ribu lebih masyarakat Tanjung Verde ke Piala Dunia terwujud. Tanjung Verde pun turut memecahkan rekor sebagai timnas dengan jumlah penduduk paling sedikit di dunia yang pernah bermain di Piala Dunia. 

Tanjung Verde memiliki jumlah populasi tepatnya 524.877 jiwa pada 2024 lalu. Jumlah ini tak lebih banyak dibandingkan salah satu kota di Indonesia, Cimahi dengan jumlah populasi sebanyak 581.994 jiwa. 

Tanjung Verde menjadi contoh yang bagus, setidaknya untuk Timnas Indonesia, dalam mencari pemain keturunan untuk memperkuat timnas mereka. 

Bahkan perekrutan salah satu pemain naturalisasi, Roberto Lopes sempat viral karena mantan pelatih Tanjung Verde, Rui Aguas merekrutnya dari layanan pencari kerja, LinkedIn. 

Dilansir dari laman The Guardian, Tanjung Verde tentu tak bisa lolos ke Piala Dunia tanpa kontribusi dari para diaspora yang tersebar di seluruh dunia. 

Bahkan 14 dari 25 pemain yang dipanggil untuk dua laga terakhir di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Afrika adalah pemain naturalisasi dari garis keturunan. 

Tanjung Verde yang menganut sistem kewarganegaraan ganda pun memudahkan para pemain keturunan mau membela negara kelahiran leluhur mereka. 

Berbeda dari Timnas Indonesia yang baru memulai proses naturalisasi dari garis keturunan pada 2021 lalu, Tanjung Verde sudah 19 tahun lebih dahulu untuk memulai naturalisasi pemain, tepatnya pada 2002 lalu. 

Tim berjulukan Blue Sharks ini memiliki pemain naturalisasi pertama mereka, Lito, yang tinggal di Portugal. Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Tanjung Verde (FCF) Inacio Carvalho mennyebut Lito membuka jalan bagi federasi untuk membawa pemain lain. 

"Dia adalah salah satu pemain asing pertama yang memilih untuk mewakili Tanjung Verde. Kami mengandalkannya untuk membantu meyakinkan pemain-pemain Portugal keturunan Tanjung Verde lainnya untuk bergabung dengan tim nasional," kata Inacio Carvalho dikutip Selasa (14/10/2025). 

Pemain diaspora pun kemudian berdatangan dari mantan negara yang pernah menjajah Tanjung Verde seperti Portugal, Prancis, hingga Belanda, yang mana juga memasok pemain keturunan untuk Timnas Indonesia.

Bahkan kini Belanda mencatatkan kontribusi terbanyak pemain keturunan Tanjung Verde dengan enam pemain memperkuat timnas, termasuk top skorer, Dailon Livramento. 

Livramento punya alasan sendiri mau membela Tanjung Verde alih-alih menunggu pemanggilan De Oranje. Bagi Livramento, ini adalah bentuk balas budi dari leluhur mereka yang mau memberikan masa depan lebih baik setelah kekurangan yang mereka alami di negara sendiri. 

“Bisa membalas budi kakek-nenek dan orang tua kita yang telah beremigrasi demi memberi kita masa depan yang lebih baik, bahkan terkadang bekerja dua pekerjaan sekaligus, adalah hal paling kecil yang bisa kita lakukan,” ujar Livramento.

Di sisi lain, Bubista tak hanya mengandalkan gerbong pemain naturalisasi untuk membawa Tanjung Verde ke Piala Dunia 2026. Pelatih bernama asli Pedro Leitao Brito ini turut mengintegrasikan pemain lokal dan muda untuk memiliki visi yang sama dengan para pemain naturalisasi 

“Persatuan di antara orang-orang dengan pola pikir dan cara hidup yang berbeda hanya dapat dicapai dengan menghormati keunikan setiap pemain,” kata pelatih kepala tersebut.

Dua pemain lokal Tanjung Verde, Vozinha dan Stopira, bermain musim ini di kasta kedua Portugal setelah memulai karir mereka dari kompetisi semi profesional di Tanjung Verde. Juga sang kapten, Ryan Mendes yang merupakan pemain abroad dengan memperkuat tim kasta kedua Turki. 

Delapan pemain inti yang tersisa dari hari Senin akan bermain untuk klub-klub divisi teratas di Portugal, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Republik Irlandia, Rumania, Rusia, Belanda, dan Siprus.

Lalu butuh berapa lama Bubista mampu mencairkan tim ini? Bubista sudah memimpin Tanjung Verde sejak 2020 lalu dan menerapkan salah satu cara untuk membuat tim bersatu, yakni menggunakan bahasa resmi Tanjung Verde, Kreol.

"Itu bahasa resmi tim nasional, dulu beberapa pemain hanya bisa berbahasa Inggris, tapi sekarang mereka belajar bahasa Kreol. Terkadang mereka mencoba berbicara bahasa lain di antara mereka sendiri, tapi saya tidak mengizinkannya, demi menjaga identitas Tanjung Verde kami tetap utuh," katanya. (hfp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:05
01:27
12:44
15:36
06:26
05:03

Viral