news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Jeffrey Epstein.
Sumber :
  • Divisi Layanan Peradilan Pidana Negara Bagian New York/Reuters

Sisi Gelap Followership: Mengapa Ghislaine Maxwell Lebih Berbahaya dari Jeffrey Epstein?

Kasus Epstein kembali menjadi sorotan global pada awal Februari 2026 ini sebab rilis besar-besaran jutaan dokumen (mega-dump files) investigasi yang sebelumnya
Sabtu, 7 Februari 2026 - 19:12 WIB
Reporter:
Editor :

Ia belajar sejak dini bagaimana cara menyenangkan, melayani, dan menutupi jejak pimpinan yang cacat moral.

Kedua, Anxiety Status dan Kebutuhan Patronase. Setelah kematian ayahnya yang memilukan di tengah skandal keuangan, Maxwell kehilangan status dan perlindungan. 

Baginya, Epstein adalah "Lifeboat" (Sekoci Penyelamat). Untuk mendapatkan kembali akses ke elit global, ia bersedia membayar dengan harga apa pun—termasuk nuraninya.

Ketiga, Social Laundering. Maxwell menggunakan modal sosialnya (pendidikan Oxford dan koneksi bangsawan) untuk melakukan "pencucian citra" Epstein. 

Ia adalah follower yang cerdas secara strategis; ia tahu nilainya terletak pada kemampuannya membeli legitimasi dunia luar untuk Epstein.

Jeffrey Epstein
Sumber :
  • Netflix

Perversi "The Courageous Follower" Maxwell

​Dalam teori yang dikembangkan Chaleff, 1995, seorang pengikut yang berani (Courageous Follower) didefinisikan melalui lima dimensi keberanian. Maxwell menunjukkan dua dimensi secara ekstrem, namun gagal total pada dimensi yang paling krusial.

Ia memiliki dimensi "Courage to Support" (Keberanian untuk Mendukung) dan dimensi "Courage to Serve" (Keberanian untuk Melayani) yang luar biasa. 

Ia mengelola detail, membangun jejaring, dan memastikan visi pimpinannya tercapai tanpa cela. Namun ia secara sadar membuang "Courage to Challenge" (Keberanian untuk Menentang) dan "Courage to Take Moral Action".

Inilah yang saya sebut sebagai Followership Patologis. Ketika loyalitas seorang pengikut berubah menjadi instrumen untuk menutupi kejahatan pimpinan, ia bukan lagi seorang pengikut—ia adalah seorang "accomplice" atau kaki tangan yang berlindung di balik jubah profesionalisme.

​"Intoxicating Followership": Mabuk Kekuasaan dan Bunuh Diri Moral

​Guna memahami mengapa seseorang dengan latar belakang pendidikan dan kelas sosial setinggi Maxwell bisa terjerumus begitu dalam, kita harus merujuk pada pemikiran Wendy Edmonds dalam Intoxicating Followership (2017).

​Edmonds, yang membedah tragedi Jonestown, menjelaskan bahwa pengikut dapat mengalami kondisi "mabuk" (intoxicated) oleh visi, akses, atau gaya hidup yang ditawarkan pemimpin. 

Dalam kasus Maxwell, "alkohol" yang ia konsumsi adalah status sosial dan akses ke elit global yang disediakan oleh uang Epstein.

Kondisi ini menyebabkan disonansi kognitif. Maxwell membenarkan perilaku predatoris sebagai bagian dari "protokol eksklusivitas."

Berita Terkait

1
2
3 4 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

07:08
01:30
03:26
01:09
03:47
02:01

Viral