- Sumber:Bobo
Mengenal Mendur Bersaudara, Fotografer yang Mengabadikan Momen Proklamasi 17 Agustus 1945
Saat Jepang menginvasi Indonesia tahun 1942, Alex kemudian masuk dalam barisan propaganda dan pelopor. Di sana ia ditunjuk pemerintah Jepang untuk bekerja sebagai kepala bagian fotografi kantor berita Domei.
Pekerjaannya sebagai wartawan foto inilah yang kemudian memberi kesempatan bagi Alex untuk melakukan berbagai dokumentasi dari setiap peristiwa di Indonesia masa itu.
Sesudah itu, apa yang dipelajari oleh Alex inilah yang akhirnya ditularkan pada sang adik, Frans Sumarto Mendur yang setelah usia remaja pada umur 14 tahun menyusul kakaknya untuk ikut merantau ke Jawa.
Frans yang tiba di Jawa juga diangkat anak oleh seorang bernama Suma saat di Jawa Timur pada tahun 1927. Kelak nama inilah yang kemudian dia sematkan sebagai nama tengahnya dan menjadi bagian dari keluarga Jawa dengan tambahan Sumarto.
Setelah 9 tahun digembleng oleh sang kakak untuk belajar fotografi, Frans lalu terjun sebagai jurnalis foto pada tahun 1935 saat ia berusia 22 tahun, dan mengirim beberapa karyanya ke sejumlah media seperti ke Java Bode dan Wereld Nieuws en Sport in Beeld, sebuah surat kabar mingguan berbahasa Belanda.
Selain itu Frans juga mengirimkan karya-karyanya pada Harian Nasional dan Harian Pemandangan yang kala itu merupakan salah satu surat kabar besar di Hindia Belanda.
Saat masa pendudukan Jepang Frans juga menjadi wartawan foto untuk Djawa Shimbun Sha, semacam Serikat Penerbit Surat Kabar.
Di tempat lain Frans juga bekerja untuk Surat Kabar Asia Raya, yang mana saat berkarier sebagai wartawan inilah akhirnya dia dapat bergerak bebas kemana-mana meski pada masa pendudukan Jepang sensor terhadap pemberitaan sangatlah keras.
Namun lewat momen ini juga yang mematangkan pengalamannya dalam dunia fotografi sekaligus melihat dengan mata kepala sendiri apa yang tidak diketahui orang kebanyakan dari kejamnya penjajahan.
Detik-detik Mengabadikan Proklamasi Kemerdekaan
Satu hari sebelum proklamasi kemerdekaan digaungkan dari kediaman Soekarno, pada malam harinya Frans mendengar kabar dari kawan-kawan pergerakan bahwa esok pagi momen bersejarah itu akan dilaksanakan setelah mendapat izin dari Laksamana Maeda.