- Antara
Sebut Halaman Gedung Sate Mirip 'Halaman Hotel', Dedi Mulyadi Kucurkan Rp15 Miliar untuk Rombak Total
Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), mengonfirmasi rencana pengalihan arus Jalan Diponegoro yang selama ini memisahkan Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari proyek revitalisasi besar-besaran halaman pusat pemerintahan Jawa Barat tersebut.
KDM menjelaskan bahwa nantinya Jalan Diponegoro tidak akan ditutup total, melainkan digeser posisinya menggunakan sebagian lahan dari Lapangan Gasibu.
Tujuannya adalah untuk mengintegrasikan halaman depan Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu sehingga tercipta ruang terbuka yang luas untuk upacara kenegaraan.
“Jadi tidak ditutup, tapi dialihkan. Nanti ada sebagian tanah Gasibu digunakan untuk jalan, sedangkan Jalan Diponegoro-nya digunakan untuk halaman. Jadi tukeran saja. Jalur lurus nanti belok, sehingga kawasan Gedung Sate sampai Gasibu menyatu,” ujar Dedi Mulyadi usai memantau Rusun ASN Kejati Jabar di Kiaracondong, Senin (13/4).
Dedi Mulyadi memiliki alasan kuat di balik perombakan ini. Menurutnya, area depan Gedung Sate saat ini belum mampu menonjolkan kemegahan gedung bersejarah tersebut secara maksimal.
Bahkan, ia sempat menyindir kondisi halaman saat ini yang dianggapnya kurang berkarakter.
“Gedung Sate yang begitu indah, hari ini halamannya menjadi 'halaman hotel'. Jadi saya ingin halaman Gedung Sate itu luas, terintegrasi, dan mencerminkan karakter Gedung Sate itu sendiri,” tegasnya.
Proyek senilai Rp15 miliar ini sudah mulai menunjukkan aktivitasnya di lapangan. Berdasarkan pantauan terbaru, taman hijau yang selama ini berada di depan Gedung Sate mulai dibersihkan, ubin plaza dibongkar, dan berbagai tanaman mulai dicabut untuk membuka ruang bagi lapangan upacara yang baru.
Berdasarkan data Biro Umum Setda Jabar, pengerjaan fisik ini ditargetkan rampung pada 6 Agustus 2026 mendatang.
Total area yang akan diintegrasikan mencapai 14.642 meter persegi, mencakup penataan trotoar dan elemen ruang publik yang kental dengan identitas budaya Sunda.
Meski demikian, proyek ini juga memunculkan pertanyaan publik terkait nasib simbol sejarah seperti Batu Prasasti Sapta Taruna.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jabar, Mas Adi Komar, memastikan bahwa semua proses dilakukan secara terbuka.