- tvOnenews - Rika Pangesti
Kisah Danny Andrian, Mualaf yang Menemukan Ketenteraman di Lapas Cipinang
Jakarta, tvOnenews.com - Suara ayat suci Al Qur’an mengalun pelan dari Masjid Lapas Cipinang setiap sore selama Ramadan. Di antara para warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang duduk bersila mengikuti tadarus, ada seorang pria berusia 48 tahun yang tampak tekun menyimak setiap huruf yang dilantunkan. Namanya Danny Andrian.
Bagi Danny, Ramadan tahun ini (1447 Masehi) terasa berbeda. Baru beberapa hari lalu ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi memeluk Islam.
Ramadan menjadi perjalanan pertamanya sebagai seorang mualaf, perjalanan spiritual yang justru dimulai dari balik jeruji besi.
- tvOnenews - Rika Pangesti
“Saya nggak ada paksaan dari siapapun. Murni dari hati. Karena saya pengen anak istri saya dan saya masuk surga. Jadi nggak ada paksaan siapapun, murni dari hati, Ibu. Lebih tenang, Ibu,” ucap Danny kepada tvOnenews.com saat ditemui di Masjid Lapas Cipinang, Selasa (3/3/2026).
Pria kelahiran Medan, Sumatera Utara itu merupakan ayah dari empat anak. Satu anaknya sudah menikah, dua masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), dan satu lagi masih balita.
Perjalanan keyakinan keluarga Danny juga berubah dalam beberapa waktu terakhir. Istri dan anak-anaknya lebih dulu memeluk Islam pada Juni 2025. Sementara Danny baru menyusul memeluk Islam pada Selasa pekan lalu di Masjid Lapas Cipinang.
“Dari hari Selasa saya disyahadatkan, hari Rabunya saya mulai puasa,” kata Danny.
Sebelum memeluk Islam, Danny beragama Nasrani. Danny menceritakan, pergulatan batinnya bermula sekitar empat tahun lalu ketika ia tanpa sengaja mendengar ceramah seorang ustaz di sebuah masjid di Tanjung Priok.
Saat itu ia baru saja pulang dari ibadah Minggu bersama keluarganya.
“Waktu itu saya habis pulang ibadah Minggu sama anak istri. Saya lewat depan salah satu masjid di Tanjung Priok, terus waktu itu saya dengar ada ustaz ceramah. Dia ngomong bahwasanya Allah itu memberikan manusia pikiran buat berpikir, mana yang baik, mana yang benar,” kenangnya.
Nyatanya, ceramah singkat itu meninggalkan kesan sangat mendalam bagi Danny. Sejak saat itu, Danny mulai memikirkan banyak hal tentang keyakinan yang ia jalani.
“Jadi saya berpikir, Islam ini agama yang benar-benar tidak ada cacatnya. Kalau di Islam ini saya pikir lengkap, asli wahyu semua dari Allah, bukan cuma cerita doang,” ujarnya.
Kini, hari-hari Danny di Lapas Cipinang diisi dengan berbagai kegiatan pembinaan. Ia mengikuti kelas santri untuk belajar dasar-dasar ajaran Islam dan mulai belajar membaca Al-Qur’an di masjid lapas.
“Harapannya mudah-mudahan saya ke depannya bisa lebih mendalami agama Islam ini. Saya bisa baca Al-Quran, bisa lebih paham, karena saya benar-benar memang buta. Alhamdulillah di sini dibimbing,” katanya.
Selain kegiatan keagamaan, Danny juga aktif dalam aktivitas pembinaan lainnya. Ia ikut kegiatan Pramuka warga binaan, menjalankan piket harian, seperti tugas dalam pengibaran bendera di lingkungan lapas.
Setiap pagi pukul enam, Danny ikut menaikkan bendera Merah Putih. Menjelang sore, sekitar pukul setengah enam, ia kembali bertugas menurunkannya.
Adapun, Danny saat ini tengah menjalani masa pidana di Lapas Cipinang setelah terseret kasus penggelapan. Ia divonis hukuman 1 tahun 9 bulan penjara.
Kini hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi sebelum ia menghirup udara bebas.
“Sudah hampir 4 bulan saya di sini. Saya operan dari Rutan Cipinang. Baru di Lapas Cipinang ini 4 bulan,” ungkap Danny.
“Sudah mau pulang, tiga bulan lagi saya pulang,” sambungnya.
Ramadan tahun ini menjadi Ramadan pertama yang ia jalani. Menurutnya, terasa sunyi karena harus menjalaninya jauh dari keluarga. Namun di balik kesunyian itu, Danny justru menemukan ketenangan baru.
Di dalam lapas, ia kerap dibimbing dan dibina oleh sesama narapidana yang mengikuti kelas santri.
Danny memulai lembaran hidup yang berbeda, belajar membaca Al-Qur’an, memahami ajaran Islam, dan menata harapan untuk kehidupan yang lebih baik ketika bebas nanti.
Bagi Danny, Ramadan kali ini bukan sekadar bulan puasa. Ini adalah awal dari perjalanan iman yang baru. (rpi/aag)