- Instagram @bem.ugm
Dulu Sebut Prabowo Bodoh hingga Berani Tantang Debat, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Kini Minta Maaf: kalau Presiden Mau Mendengar
Namun ia menegaskan kritik tersebut tidak ditujukan pada aspek personal.
“Bodoh yang dimaksud di sini adalah inkompetensi yang laten,” jelasnya.
Soroti Anggaran dan Dugaan Korupsi
Terkait MBG, Tiyo Ardianto kembali menyuarakan keberatan BEM UGM terhadap prioritas anggaran pemerintah. Ia menyebut program tersebut rawan penyimpangan dan tidak menyentuh akar persoalan pendidikan.
“Ketika masalah kebangsaan kita adalah kebodohan dan akses pendidikan yang minim, justru direduksi solusinya pada MBG (Makan Bergizi Gratis) yang sebenarnya tidak bergizi dan juga tidak gratis. Dan justru malah menjadi lahan korupsi yang luar biasa basah, sehingga lebih layak kita sebut sebagai ‘maling berkedok gizi’,” ujar Tiyo
Ia juga membandingkan besaran anggaran program tersebut dengan kondisi siswa di daerah.
“Seorang anak di Ngada, NTT, yang memutuskan untuk bunuh diri hanya karena gagal membeli pena dan buku seharga Rp 10.000. Luar biasa kontras dan tragis saya kira, ketika kekuasaan hari ini menggelontorkan luar biasa banyak uang untuk MBG, Rp 1,2 triliun setiap hari atau Rp 335 triliun setiap tahun, sambil merampas anggaran pendidikan Rp 223 triliun,” ujarnya.
Respons terhadap Pemerintah dan Sikap BEM
Tiyo turut menanggapi pernyataan Menteri HAM Natalius Pigai terkait isu teror yang dialaminya.
“Mohon maaf, Mas/Pak Natalius Pigai, saya ini enggak perlu tahu siapa yang melakukan teror. Yang dibutuhkan oleh publik adalah jaminan bahwa ketika menghadapi teror, negara itu hadir di sana. Negara tidak boleh hadir sebagai teror itu sendiri. Tidak boleh sebagai orang yang mengklarifikasi bahwa mereka tidak melakukan teror. Kan yang terjadi justru semacam paranoia dari rezim, bahwa seolah-olah kita itu menduga mereka yang melakukannya,” tegasnya.
Ia memastikan BEM UGM tidak akan menghentikan sikap kritisnya meski mendapat tekanan.
“Pada prinsipnya, saya menyampaikan ke publik bahwa BEM UGM akan menggagalkan teror ini dengan cara tidak gentar, tidak takut, dan tidak berhenti melihat persoalan publik ini sebagai persoalan yang harus selalu untuk dikawal. Sehingga ke depan, tidak akan ada yang berbeda dari BEM UGM, siapa pun ketuanya nanti. Bahwa kemudian ada solidaritas yang lebih dan kewaspadaan yang lebih, itu adalah cara kami belajar. Tapi jangan bayangkan gara-gara teror ini kami kemudian berhenti," pungkasnya.