Ketua BEM UGM Ceritakan Awal Mula Pihaknya "Terpancing" Kirim Surat ke UNICEF, Ternyata Bermula dari Bencana di Sumatera
Tiyo pun mengatakan puncaknya adalah saat ada anak SD di NTT yang memutuskan untuk menyelesaikan hidupnya setelah gagal membeli pena dan buku seharga Rp10 ribu.
“Ironisnya saat bersamaan negara setiap hari menggelontorkan Rp1,2 triliun untuk MBG. Itu puncak kemarahan publik yang kemudian BEM UGM merasa perlu merespons kebuntuan jalan-jalan perbaikan itu. Saya rasa warga dunia harus membantu rakyat Indonesia untuk bantu selamatkan rakyatnya karena kita punya presiden yang tidak bisa dikasih tahu apa-apa,” ucapnya.
Ketika ditanya kenapa pihaknya mengirimkan surat ke UNICEF alih-alih mengirimkannya ke DPR atau pihak-pihak terkait di dalam negeri, Tiyo menjawab karena adanya kemampatan di kanal-kanal perbaikan.
“Ringkasnya, ada kemampatan di bangsa kita. Kanal perubahan atau perbaikan buntu. Pascademo Agustus tuntutan publik 17+8 saja sampai sekarang kita tidak bisa percaya sama DPR,” jawabnya.
Diteror Usai Kirim Surat ke UNICEF
Setelah mengirimkan surat ke UNICEF, muncul pemberitaan bahwa Tiyo menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor kode negara Inggris.
Selain itu, dia juga mendapatkan pesan dari peneror yang menuduh Tiyo sebagai agen asing dan mencari panggung.
“Agen asing. Jangan cari panggung jual narasi sampah,” demikian isi pesan teror tersebut.
Terkait teror ini, Tiyo mengaku tidak takut sama sekali karena dia sudah menghitung apapun risikonya.
“Bagi saya, menghadapi ini dengan takut artinya teror itu berhasil. Saya harus menghadapi ini secara ksatria untuk menunjukkan teror itu gagal. Apapun risiko sudah kita hitung. Semoga bukan risiko terburuk yang kita alami,” katanya.
Di sisi lain, pihak Istana pada Rabu (18/2/2026) merespons kabar teror terhadap Tiyo. Menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, penyampaian kritik oleh mahasiswa merupakan hal yang sah.
Akan tetapi, kata dia, perlu dilakukan secara bertanggung jawab dengan mengedepankan etika dan adab.
"Menyampaikan kritik atau masukan itu selalu kami sampaikan bahwa itu sah-sah saja gitu. Nah, tetapi tentu kita mengimbau kepada semuanya ya untuk menyampaikan segala sesuatu itu dengan penuh tanggung jawab juga. Kemudian juga mengedepankan etika, adab, adab-adab ketimuran gitu loh," ujarnya.