- tvOnenews.com/Rika Pangesti
Usai Pigai Komentari Terkait Ketua BEM UGM Mengaku Diteror, Kini Habiburokhman Usul Tiyo Ardianto Lapor Polisi
Jakarta, tvOnenews.com - Usai Menteri HAM, Natalius Pigai komentari terkait Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengaku diteror. Kini, Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman usulkan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto buat laporan polisi.
Selain itu, ia menilai laporan polisi dapat jadi jalan aparat untuk menindak pelaku teror tersebut.
"Terkait informasi adanya teror terhadap Ketua BEM UGM, kami berharap yang bersangkutan membuat laporan polisi, dan selanjutnya bisa ditindak oleh aparat," beber Habiburokhman kepada wartawan, Sabtu (21/2/3035).
Bahkan, Habiburokhman menilai teror yang dialami Tiyo bukan berasal di pihak pendukung Presiden Prabowo Subianto.
Selain itu, kata dia, pihak pendukung Prabowo juga mengalami hal yang sama dengan Tiyo.
"Kami pastikan pelaku teror bukan dari pendukung Pak Prabowo. Sebaliknya, kami perlu informasikan bahwa saat ini ada beberapa pendukung Pak Prabowo juga mendapat ancaman teror. Saya juga meminta rekan-rekan tersebut juga membuat laporan polisi," jelasnya.
Kemudian, ia menilai ada pihak lain yang berupaya memecah belah masyarakat. Situasi yang tak kondusif dinilai dapat menjadi pintu masuk perpecahan.
"Waspada ada pihak ketiga yang mau mengadu domba bangsa kita. Situasi saat ini bisa saja ada pihak yang ingin memancing di air keruh," bebernya.
Sebelumnya diberitaka, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto menjelaskan terror tersebut terjadi sejak tanggal 9 Februari lalu.
Bahkan ia akui, dirinya mendapatkan berbagai pesan dari beberapa nomor luar negeri berisi ancaman pembunuhan hingga akan membuka aib.
"Teror itu sejak Selasa, 9 Februari. Ada sekitar 6 nomor asing (dari luar negeri). Itu isinya ada ancaman penculikan, ada ancaman untuk katanya membuka aib," kata Tiyo, Jumat (20/2/2026).
Tak hanya itu, Tiyo juga mengaku sempat mengalami penguntitan pada Rabu (11/2). Penguntitan terhadap Tiyo dilakukan oleh orang tak dikenal saat dirinya sedang berada di sebuah kedai. Meski saat itu sempat dikejar, para penguntit itu bisa pergi.
"Ada juga pengalaman sempat dikuntit. Jadi saya sedang di sebuah kedai, dan dari jauh ada orang yang menguntit sekaligus memfoto. Tetapi, ketika kami kejar, dia sudah segera pergi. Ini alarm yang menunjukkan bahwa demokrasi kita nggak baik-baik saja," pungkasnya. (aag)