- Antara
Aksi Isyarat Berujung Maut, Bripda MS Jadi Tersangka Kasus Penganiayaan yang Menewaskan Pengendara
Tual, tvOnenews.com – Kasus dugaan penganiayaan yang menyebabkan seorang pengendara sepeda motor meninggal dunia berujung pada penetapan Bripda MS sebagai tersangka. Insiden tragis tersebut terjadi saat anggota kepolisian melakukan upaya pengamanan di jalan raya, namun berakhir fatal setelah korban terkena pukulan helm taktikal.
Peristiwa itu bermula ketika aparat menghentikan kendaraan dan sejumlah personel turun langsung ke jalan untuk melakukan pengamanan situasi. Bripda MS bersama rekan-rekannya kemudian menyeberangi median jalan dan bersiaga di lokasi guna mengendalikan arus lalu lintas.
Sekitar 10 menit berselang, dari arah Ngadi menuju kawasan Tete Pancing, dua sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi. Melihat kondisi tersebut, Bripda MS berupaya memberikan isyarat agar pengendara memperlambat laju kendaraan.
Namun cara yang dilakukan justru berujung petaka. Bripda MS melepas helm yang dikenakannya dan mengayunkannya beberapa kali di tengah jalan sebagai tanda peringatan bagi pengendara yang melintas. Saat jarak semakin dekat, helm tersebut mengenai pelipis kanan korban AT.
Benturan keras itu menyebabkan korban kehilangan kendali hingga terjatuh dari sepeda motor. Korban terhempas ke aspal dalam posisi telungkup, dengan dada dan perut menghadap ke bawah. Sementara itu, sepeda motor yang dikendarainya terus melaju tanpa kendali dan akhirnya menabrak motor lain yang dikendarai kakak kandung korban yang berada di sisi kiri jalan.
Insiden tersebut langsung memicu kepanikan di lokasi kejadian. Bripda MS bersama anggota lainnya segera mengevakuasi korban AT untuk mendapatkan pertolongan medis. Korban kemudian dilarikan ke RSUD Karel Sadsuitubun Langgur.
Upaya penyelamatan sempat dilakukan oleh tim medis. Namun, kondisi korban yang mengalami cedera serius membuat nyawanya tidak tertolong. Pada pukul 13.00 WIT, korban AT dinyatakan meninggal dunia oleh pihak rumah sakit.
Kabar meninggalnya korban dengan cepat sampai ke pihak keluarga. Tidak terima atas kejadian tersebut, keluarga korban langsung mendatangi markas Brimob di Tual untuk menuntut keadilan dan meminta pertanggungjawaban atas insiden yang merenggut nyawa anggota keluarga mereka.
Tuntutan keluarga korban mendapat respons cepat dari aparat. Pihak Brimob bersama Polres setempat segera mengambil langkah tegas dengan mengamankan Bripda MS pada hari yang sama untuk menjalani pemeriksaan intensif.
Penanganan perkara kemudian ditingkatkan ke proses hukum setelah dilakukan pendalaman terhadap kronologi kejadian, keterangan saksi, serta hasil pemeriksaan awal. Dari hasil tersebut, penyidik menetapkan Bripda MS sebagai tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan yang menyebabkan kematian.
Kasus ini menjadi sorotan karena tindakan yang dilakukan diduga tidak sesuai dengan prosedur standar dalam menghentikan kendaraan di jalan raya. Penggunaan helm sebagai alat isyarat dinilai berisiko tinggi dan berujung pada konsekuensi fatal.
Selain itu, insiden ini juga memunculkan perhatian publik terkait pentingnya penerapan prosedur pengamanan yang mengedepankan keselamatan semua pihak, baik petugas maupun masyarakat. Penanganan di lapangan seharusnya dilakukan secara terukur, profesional, dan menghindari tindakan yang berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Pihak kepolisian memastikan proses hukum berjalan transparan dan akuntabel. Langkah cepat penahanan terhadap yang bersangkutan disebut sebagai bentuk komitmen institusi dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu.
Sementara itu, keluarga korban berharap proses hukum dapat memberikan keadilan atas peristiwa yang terjadi. Mereka meminta agar kasus tersebut diusut tuntas sehingga menjadi pelajaran agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa setiap tindakan dalam pelaksanaan tugas harus tetap mengacu pada standar operasional dan prinsip kehati-hatian. Kesalahan kecil di lapangan dapat berdampak besar, bahkan menghilangkan nyawa.
Hingga kini, penyidik masih terus melengkapi berkas perkara dengan mengumpulkan alat bukti tambahan serta keterangan saksi guna memastikan proses hukum berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kasus tersebut tidak hanya menjadi perhatian masyarakat setempat, tetapi juga menjadi refleksi penting bagi aparat penegak hukum dalam menjalankan tugas pengamanan secara profesional, humanis, dan mengutamakan keselamatan publik. (nsp)