news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Lokasi anak SD bunuh diri di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, dipasang garis polisi.
Sumber :
  • tvOneNews

Murka Orang Nomor Satu di NTT Meledak, Sesalkan Pemda Ngada Imbas Siswa SD Bunuh Diri Diterpa Ekonomi: Lamban

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena secara emosional geram Pemda Kabupaten Ngada menganggap remeh tragedi siswa SD bunuh diri akibat kesulitan ekonomi.
Kamis, 5 Februari 2026 - 06:37 WIB
Reporter:
Editor :

Kupang, tvOnenews.com - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena murka kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Ngada. Emosionalnya meluap imbas tragedi siswa SD, YBR (10), ditemukan bunuh diri, Kamis (29/1/2026).

Melki meluapkan amarahnya kepada Pemda Ngada lantaran kasus anak SD gantung diri. Faktor utama siswa kelas IV SD mengakhiri hidupnya menyusul karena tekanan kemiskinan.

Ia menegaskan, tragedi dialami YBR bukan hal biasa. Anak SD bunuh diri diterpa kesulitan ekonomi menjadi alarm keras atas kegagalan instansi pemerintah setempat, khususnya provinsi.

"Jangan anggap ini biasa! Ada seorang anak di NTT mati hanya karena tidak bisa membeli buku dan pena," ujar Melki dalam keterangannya di Kupang, Rabu (4/2/2026).

Malu Anak SD Gantung Diri Dihantam Faktor Kemiskinan

Gubernur NTT, Melki Laka Lena
Sumber :
  • Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT

Ia mengaku akibat tragedi dialami YBR heboh, mendapatkan banyak pesan dan pertanyaan dari sejumlah menteri, DPR, hingga berbagai tokoh nasional untuk memastikan kondisi kemiskinan di NTT.

Ia merasa malu tragedi siswa SD berusia 10 tahun mengakhiri hidupnya secara tragis. Apalagi kasus tersebut mengguncang kesedihan dan pilu dari publik.

"Malu! Ini Warga Negara Indonesia, orang NTT juga tapi mati gara-gara dilanda kemiskinan," tegasnya.

Ia menyesali pemerintah setempat gagal. Akibatnya, kegagalan ini juga berdampak pada instansi pemerintah terutama di lingkungan provinsi, peranata sosial, keagamaan, hingga budaya.

Sentil Pemda Ngada Lamban Tangani Kasus Siswa SD Bunuh Diri

Di Program Kabar Utama tvOne, pria bernama asli Emanuel Melkiades Laka Lena menyayangkan sikap Pemda Ngada. Ia memperoleh kabar kedatangan pemerintah setempat lamban menangani kasus tersebut.

Ia menegaskan, kegagalan sikap Pemda Ngada mengurus tragedi dialami bocah SD bunuh diri menurunkan citra pemerintah setempat, khususnya juga berdampak pada Pemprov NTT.

"Saya mengoreksi teman-teman di Kabupaten Ngada sendiri. Menurut saya, mereka termasuk agak lamban bergerak untuk urusan ini," tegas Melki.

Meski begitu, ia juga menyalahkan tragedi ini menjadi alarm keras bagi Pemprov NTT. Ia mengaku gagal mengentas persoalan kemiskinan warga di wilayahnya.

"Saya selaku Gubernur, Pemprov juga kami gagal mendeteksi ini. Saya juga tunjuk diri saya sendiri," tambahnya.

Ia mengaku pemerintahannya banyak kekurangan. Ia semaksimal mungkin terus membenahi berbagai sistem yang belum sempurna.

Ia tidak menginginkan tragedi serupa kembali terjadi. Berdasarkan informasi yang didapatkan, ia menduga kasus tersebut tidak hanya sekali, tetapi sudah beberapa kali di Ngada.

Ia mengimbau harus korban dimakamkan dengan baik dan bermartabat. Pemerintah juga harus menangani secara serius terkait seluruh kebutuhan keluarga korban.

"Bisa bekerja baik untuk mengurus keluarga dan anak-anak. Jangan ada lagi kejadian ini terjadi lagi nanti," tegasnya.

Pemerintah Wajib Tangani Keluarga Korban

Fakta-Fakta Anak SD di NTT Bunuh Diri Karena Tak Mampu Beli Buku dan Pena Seharga Rp10 Ribu, Akhiri Hidup di Pohon Cengkeh hingga Gambar Dirinya Menangis
Sumber :
  • Tangkapan layar

Melki menyampaikan, dirinya berjanji mengerahkan seluruh pihak. Ia berharap khususnya pemerintah saling bergotong royong membantu keluarga korban.

Ia pasti memahami betapa hancurnya orang tua korban. Pasalnya, sepucuk surat wasiat berisi perpisahan dan pesan ditulis korban untuk sang ibu kandung, MGT (47).

Dalam hal ini, gebrakan tersebut menjadi langkah pertama menyadarkan pemerintah mengentas masyarakat yang masuk golongan miskin dan miskin ekstrem di NTT.

"Karena memang warga miskin di NTT, harus saya akui cukup banyak. Kami terus bekerja keras untuk menurunkan (kemiskinan) tahun lalu yang turun kurang lebih 0,5 persen dari sebelumnya," janji dia.

Kabar siswa SD bunuh diri belakangan ini mengguncang publik. Hal ini bermula dari sejumlah video isak tangis keluarga dan warga sekitar pecah saat korban dibawa peti mati.

Diketahui, YBR memutuskan bunuh diri di sebuah pondok tempat tinggal bersama neneknya berusia 80 tahun di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT. Korban ditemukan tewas gantung diri di sebuah dahan pohon cengkeh.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan sepucuk surat pilu ditulis oleh korban. Hal itu terjadi sebelum bocah berusia 10 tahun itu tewas gantung diri.

Pada Rabu (4/2/2026), Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino menyampaikan fakta terbaru motif kematian korban. Ia menyoroti soal dugaan tak mampu membeli alat tulis seharga Rp10.000.

Kata dia, tekanan psikologis korban diduga menjadi pemicu gantung diri ketimbang tidak dibelikan buku dan pena. Hal itu berasal dari hasil penyelidikan di lapangan.

"Melainkan sering dinasihati oleh orang tuanya," ungkap Andrey.

Psikologis korban terguncang lantaran sempat beberapa kali izin tidak masuk sekolah dalam satu minggu. Alasannya berdalih sakit.

Orang tuanya juga menasihati korban agar tidak main hujan guna mencegah sakit dan tidak kembali izin sekolah. Namun, siswa kelas IV SD itu salah kaprah menanggapi arahan ibu kandungnya.

Andrey menambahkan, polisi tidak menemukan adanya unsur kekerasan dan dugaan perundungan dari lingkungan sekolah. Keputusan itu didasari dengan hasil visum.

(hap)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:18
01:01
01:52
05:54
07:49
05:37

Viral