- Dok. tvOne/Catatan Demokrasi
Profil Siti Fadilah Supari, Mantan Menkes yang Diisukan Tewas karena Bom Mobil, Ini Fakta Sebenarnya
Jakarta, tvOnenews.com – Nama Siti Fadilah Supari mendadak menjadi perbincangan luas di media sosial. Sebuah potongan video viral menyebutkan mantan Menteri Kesehatan RI itu meninggal dunia setelah mobil yang dikendarainya disebut dibom. Narasi tersebut memicu kepanikan dan spekulasi di tengah masyarakat.
Namun, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) memastikan kabar tersebut tidak benar alias hoaks. Pemerintah menegaskan bahwa Siti Fadilah Supari dalam kondisi sehat dan tidak pernah mengalami kecelakaan maupun insiden pengeboman seperti yang diklaim dalam video yang beredar.
Klarifikasi Resmi Pemerintah
Melalui akun Instagram resminya, Kemenkes RI menyampaikan bantahan tegas atas kabar yang beredar luas di media sosial.
“#Healthies, beredar video dan narasi yang menyebut eks Menkes mengalami kecelakaan. Informasi tersebut tidak benar. Pihak keluarga memastikan Ibu Siti Fadilah Supari dalam kondisi sehat,” tulis Kemenkes RI, Rabu (17/12/2025).
Klarifikasi ini sekaligus menepis isu yang menyebut adanya ledakan, kecelakaan fatal, hingga korban jiwa. Pemerintah menegaskan seluruh narasi tersebut tidak memiliki dasar fakta.
Isi Video Viral yang Menyesatkan
Video hoaks tersebut berdurasi sekitar 1 menit 29 detik. Isinya menampilkan tangkapan layar percakapan WhatsApp yang disertai narasi suara. Dalam video itu disebutkan bahwa mobil yang ditumpangi Siti Fadilah Supari meledak akibat bom saat melintas di Tol Cikampek.
Narasi dalam video bahkan mengklaim kendaraan hancur parah dan menyebut adanya korban, meskipun disebutkan Siti Fadilah selamat. Informasi ini dengan cepat menyebar di berbagai platform, seperti WhatsApp, Instagram, hingga X.
Hasil penelusuran menunjukkan audio dalam video tersebut terindikasi hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI). Pemeriksaan menggunakan situs pendeteksi AI Hive Moderation memperkuat dugaan bahwa konten tersebut merupakan manipulasi digital.
Profil Singkat Siti Fadilah Supari
Siti Fadilah Supari lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 6 November 1949. Ia dikenal sebagai dokter spesialis jantung, akademikus, sekaligus teknokrat yang pernah memegang peran strategis di pemerintahan.
Ia menjabat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia ke-15 pada periode 2004–2009 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah itu, ia juga dipercaya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bidang Kesehatan dan Kesejahteraan Rakyat pada 2010–2014.
Latar Belakang Pendidikan dan Karier
Siti Fadilah merupakan alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI). Ia meraih gelar sarjana dari UGM pada 1972, gelar magister spesialis jantung dari UI pada 1987, serta doktor dari UI pada 1996.
Sebelum terjun ke pemerintahan, ia telah berkarier puluhan tahun sebagai dokter jantung di RS Jantung Harapan Kita, sekaligus dosen dan peneliti. Ia juga dikenal aktif dalam penelitian kardiologi dan epidemiologi, baik di dalam maupun luar negeri.
Kiprah Kontroversial sebagai Menkes
Nama Siti Fadilah Supari dikenal luas secara internasional saat menjabat Menkes, terutama terkait kebijakannya menghentikan pengiriman sampel virus flu burung H5N1 ke WHO pada 2006. Langkah tersebut diambil karena Indonesia dinilai tidak memperoleh akses adil terhadap vaksin yang dikembangkan dari virus tersebut.
Kebijakan itu menuai pro dan kontra global, namun menjadikan Siti Fadilah sebagai salah satu tokoh kesehatan Indonesia yang paling dikenal di dunia internasional.
Imbauan Waspada Hoaks
Kemenkes mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya informasi viral, terutama yang menyangkut tokoh publik dan isu keamanan. Pemerintah meminta masyarakat selalu memverifikasi informasi melalui sumber resmi atau media kredibel sebelum menyebarkannya kembali.
Penyebaran hoaks berbasis AI dinilai semakin mengkhawatirkan karena mampu memanipulasi emosi publik dan menciptakan keresahan yang tidak perlu.
Dengan klarifikasi ini, pemerintah memastikan bahwa Siti Fadilah Supari dalam kondisi sehat, aman, dan tidak mengalami peristiwa pengeboman maupun kecelakaan, seperti yang diisukan di media sosial. (nsp)