news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Nasib para pedagang setelah GRIB Jaya diusir dari lahan BMKG.
Sumber :
  • Kolase tvOnenews

Merasa Ditipu GRIB Jaya, Para Pedagang di Lahan Sengketa BMKG Ini Beri Pengakuan di Depan Polisi, Katanya Anak Buah Hercules Itu...

Begini kisah para pedagang yang merasa ditipu oleh GRIB Jaya selama duduki lahan sengketa BMKG. Di hadapan polisi, mereka bercerita kelakuan anak buah Hercules.
Senin, 2 Juni 2025 - 05:40 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Para pedagang di lahan sengketa BMKG merasa ditipu GRIB Jaya. Di depan polisi mereka pun memberikan pengakuan soal anak buah Hercules.

Sabtu (24/5/2025) polisi akhirnya menggusur markas ormas pimpinan Hercules, GRIB Jaya di Pondok Betung, Tangerang Selatan (Tangsel) buntut laporan dari BMKG.

GRIB Jaya dilaporkan menduduki lahan milik BMKG secara ilegal. Tak cuma itu, anak buah Hercules ini juga menyewakan lahan tersebut kepada para pedagang.

Curhatan Warga Usai Polda Metro Sikat Anggota GRIB Jaya di Lahan BMKG: Ini Nggak Gratis Bang!
Sumber :
  • istimewa

 

BMKG berencana akan segera membangun gedung di lahan seluas sekitar 12 hektare itu. Namun, GRIB Jaya tak mau pergi berdalih melindungi hak ahli waris.

Di satu sisi, ormas pimpinan Hercules itu menyebut mereka berdiri di atas lahan tersebut atas izin ahli waris. Mereka bahkan mengaku dimintai tolong menduduki tanah agar tak dibangun BMKG.

Menurut ormas itu, para ahli waris saat ini sedang berjuang menuntut keadilan untuk mendapatkan tanahnya kembali. Sementara pihak BMKG mengklaim sudah memiliki surat rekomendasi dari Mahkamah Agung (MA) untuk melakukan penggusuran.

Pada saat penggusuran dilakukan, para pedagang yang menyewa lahan kepada GRIB Jaya ikut menjadi korban.

Salah satu pedagang bernama Darmaji mengaku ia tak mengetahui apapun soal lahan sengketa. Ia bahkan secara rutin membayar Rp3,5 juta kepada ormas pimpinan Hercules itu.

"Di sini mulai bulan Januari (2025), saya jualan Pak, jualan seafood," kata Darmaji, saat ditanya polisi sebelum penggusuran dilakukan.

Darmaji mengungkapkan ia mulanya ditawari oleh Ketua RT daerahnya apakah bersedia mengisi lahan tersebut untuk berjualan.

Melihat ada peluang bisnis, pria asal Brebes ini pun mengambil tawaran itu dan mendirikan restoran sederhana dengan modal Rp70 juta.

Ia mengaku sudah mendapatkan izin dari Ketua RT untuk membangun restoran tersebut.

"Enggak ada (iuran) cuma uang sewa bulanan," kata dia menjelaskan.

Uang sewa itu kemudian dikirimkan ke bank atas nama Yani yang merupakan pimpinan GRIB Jaya Tangsel.

"Ditransfer ke Pak Yani. Saya enggak tahu sebagai apanya, ketua GRIB gitu," kata Darmaji.

Ia menjelaskan, biaya sewa yang dibayarkan ke Yani berjumlah Rp3 juta dan biaya listrik sebesar Rp500 ribu. Totalnya menjadi Rp3,5 juta dibayarkan setiap bulannya.

Darmaji mengaku dirinya tak pernah diberi penjelasan oleh Yani bahwa lahan itu masih sengketa dan bisa saja menjadi masalah ke depannya.

Saat tiba-tiba digusur, dirinya mengaku kebingungan dan baru mengetahui ada kasus di belakangnya.

"Saya baru tahu ini Pak, makanya saya bingung tadinya," kata dia lagi.

Adapun biaya parkir pelanggan yang datang, Darmaji menegaskan bahwa dirinya tak pernah melakukan pungutan.

Meski demikian, kemungkinan anggota GRIB Jaya lah pihak yang juga melakukan pungutan parkir.

Posko GRIB Jaya di lahan milik BMKG, Tangerang Selatan dirobohkan, Sabtu (24/5).
Sumber :
  • tvOnenews.com/Julio Trisaputra

 

"Saya enggak mungut (parkir) demi Allah. Mungkin GRIB-nya (yang mungut)," tegas dia.

Sementara itu, pedagang lainnya bernama Ina Wahyuningsih mengatakan dirinya membayar Rp22 juta kepada anak buah Hercules bernama Yani itu untuk mendirikan lapak jualan hewan kurban.

Ia pun sudah berada di daerah Pondok Betung selama puluhan tahun. Ketika melihat lahan kosong diduduki GRIB Jaya, ia pun meminta izin apakah bisa menempatkan hewan kurban miliknya.

"Kebetulan saya kan kenal-kenal sama anak-anak ormas ini dan saya lihat lahan ini kan ada ksong," katanya.

Setelah bertanya, ternyata GRIB Jaya mengizinkannya untuk menaruh hewan kurban. Mulanya anak buah Hercules meminta uang Rp25 juta sudah termasuk izin kepada aparat setempat.

Namun, setelah negosiasi mereka setuju untuk diberi bayaran Rp22 juta. 

Meski demikian, kini perjanjian-perjanjian itu harus berakhir. Beberapa lapak yang sudah didirikan warga harus digusur karena mereka mendirikannya di atas lahan sengketa. (iwh)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:05
01:27
12:44
15:36
06:26
05:03

Viral