news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Menteri Keuangan, Sri Mulyani memberikan sambutan pada acara Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia, Jakarta, Selasa, (08/04/2025).
Sumber :
  • Abdul Gani Siregar/tvOnenews.com

Aset Keuangan Dunia Lari dari AS ke Eropa - Jepang, Sri Mulyani Bocorkan Biang Keroknya

Kabar aset keuangan dunia saat ini lari dari Amerika Serikat (AS) ke Eropa dan Jepang mencuat di media massa hingga sosial media. 
Jumat, 25 April 2025 - 03:30 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Kabar aset keuangan dunia saat ini lari dari Amerika Serikat (AS) ke Eropa dan Jepang mencuat di media massa hingga sosial media. 

Hal ini ternyata diungkap oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani.

"Aliran modal dunia mengalami pergeseran dari Amerika Serikat ke negara dan aset yang dianggap aman atau safe haven assets," ungkapnya dalam Konferensi Pers KSSK secara virtual, Kamis (24/4/2025).

"Terutama (bergeser ke) aset keuangan di Eropa dan Jepang, serta ke komoditas emas," sambung Sri Mulyani.

Aliran modal yang keluar juga terjadi di negara-negara berkembang. Pada akhirnya, fenomena ini menimbulkan tekanan yang berujung pelemahan sejumlah mata uang.

Biang kerok larinya aset keuangan dari AS, kata Sri Mulyani, tak lain adalah kebijakan tarif impor yang ditetapkan Presiden Donald Trump

Dia justru menilai tarif tinggi itu bakal berdampak negatif untuk pertumbuhan ekonomi Amerika.

Nasib serupa juga akan dialami China selaku negara yang melawan dengan menetapkan tarif balasan. Tiongkok selaku negara ekonomi kedua terbesar di dunia itu dihantam tarif sebesar 245 persen oleh AS.

"Kebijakan (tarif Trump) dan ketidakpastian tersebut telah mendorong perilaku risk aversion atau penghindaran risiko dari para pelaku usaha, termasuk pemilik modal," katanya.

"Tentu, ini (perang tarif AS Vs China) akan menambah risiko dalam bentuk kenaikan inflasi dan pelemahan atau bahkan penurunan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat," imbuhnya.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo juga memotret fenomena serupa. Ia melihat kebijakan tarif Trump melahirkan risk appetite yang sangat tinggi.

"Karenanya, para pelaku investor global memindahkan investasi portofolio-nya ke negara dan aset yang dianggap aman, safe haven asset and countries," jelasnya.

"Sehingga terjadi aliran modal yang keluar dari emerging market ke negara-negara yang dianggap aman, antara lain Eropa dan Jepang. Dan juga terhadap aset-aset yang dianggap aman, yaitu obligasi pemerintah dari Eropa dan Jepang, juga emas," sambung Perry. (aag)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:05
01:27
12:44
15:36
06:26
05:03

Viral