- Antara
20 Juta Pengguna, Indonesia Masuk Top 10 Pasar Kripto Global
Secara demografis, adopsi kripto di Indonesia masih terpusat di Pulau Jawa dengan kontribusi sekitar 75 persen. Wilayah lainnya meliputi Sumatera (13,77 persen), Kalimantan (5 persen), Sulawesi (2,78 persen), Bali (2,78 persen), serta Maluku dan Papua yang masing-masing sekitar 0,29 persen.
Melihat distribusi tersebut, peluang ekspansi ke luar Jawa dinilai masih sangat besar. Bagi para pengembang dan investor, kondisi ini menunjukkan ruang pertumbuhan (growth runway) yang masih panjang.
Memasuki 2026, arah perkembangan pasar kripto di Indonesia diproyeksikan akan bergerak pada tiga tren utama.
Pertama, stablecoin diperkirakan akan berkembang dari sekadar alat trading menjadi infrastruktur finansial. Kedua, konsep RWA (Real World Asset) dan Web3 mulai masuk ke aplikasi bisnis nyata. Ketiga, struktur pasar kripto diprediksi berkembang menuju model multi-operator yang semakin menyerupai pasar keuangan tradisional.
Sejalan dengan proyeksi pertumbuhan tersebut, perusahaan perdagangan aset kripto yang menjadi penyelenggara acara tersebut menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem kripto yang inklusif, terpercaya, dan memberikan dampak nyata.
Head of Product and Engineering Tokocrypto, Dematio, menyampaikan bahwa sepanjang 2026 pihaknya akan melanjutkan agenda inovasi dengan menghadirkan berbagai fitur baru yang lebih relevan bagi pengguna di Indonesia.
Ke depan, platform ini juga akan menyeimbangkan percepatan inovasi dengan penguatan fondasi teknologi, mulai dari peningkatan stabilitas sistem, pengelolaan risiko, hingga edukasi pengguna.
Dengan pendekatan tersebut, setiap fitur yang diluncurkan diharapkan tidak hanya memberikan nilai tambah, tetapi juga meningkatkan rasa aman dan kepercayaan masyarakat dalam memanfaatkan aset kripto sebagai bagian dari kebutuhan finansial mereka.