- Istimewa
GBBM Etanol 10% Siap Berlaku 2026, Pertamina Tegaskan BBM Campur Etanol Tak Ganggu Performa Kendaraan
“Sejak 2010, mesin sepeda motor anggota AISI sudah didesain untuk kompatibel hingga E10. Jadi tidak ada masalah teknis dengan rencana mandatori E10,” ujar Hari.
Ia menambahkan, sosialisasi tetap diperlukan agar masyarakat tidak salah paham. “Kekhawatiran muncul karena kurangnya informasi. Perlu disampaikan bahwa ini bukan ‘oplosan’, tapi program energi hijau yang dirancang pemerintah dan industri secara serius,” katanya.
Dorong Ekonomi dan Ketahanan Energi
Mandatori E10 dinilai akan mendorong tumbuhnya industri bioenergi nasional. Dengan konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun, kebutuhan etanol akan mencapai 3,9 juta kiloliter jika mandatori E10 diterapkan penuh.
“Ini peluang besar untuk menciptakan multiplier effect di sektor pertanian, industri kimia, dan energi terbarukan. Saat ini kapasitas produksi etanol domestik baru sekitar 350 ribu kiloliter per tahun, jadi ada ruang pertumbuhan besar,” kata Ega.
Pertamina juga telah menyiapkan riset dan formula aditif khusus untuk menjaga kualitas BBM campuran etanol agar tidak menimbulkan korosi maupun penurunan performa mesin. “Aditif ini berfungsi sebagai corrosion inhibitor, demulsifier, dan performance improver, untuk memastikan bahan bakar tetap optimal,” ucap Ega.
Masih kata Ega, Pertamina menegaskan akan terus meningkatkan edukasi publik dan pengalaman pelanggan (customer experience) terkait penggunaan BBM campuran etanol.
“Kami akan sediakan alat uji emisi di SPBU agar masyarakat bisa melihat sendiri perbandingan BBM biasa dan BBM etanol. Ini cara membuktikan langsung bahwa etanol lebih ramah lingkungan,” ujar Ega.
Selain memperluas distribusi Pertamax Green 95, Pertamina juga menyiapkan infrastruktur penyimpanan dan logistik untuk mendukung pasokan etanol nasional. “Kami ingin masyarakat tahu bahwa ini bukan kebijakan coba-coba, tapi bagian dari rencana besar menuju kemandirian energi Indonesia,” kata Ega, tegas.
Harapan Konsumen
Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, menilai kebijakan E10 sejalan dengan upaya global mengurangi emisi karbon. Ia mendorong agar pemerintah menjalankannya secara konsisten dan memberikan insentif bagi masyarakat yang menggunakan energi hijau.
“Yang penting bagi konsumen, produknya aman untuk mesin, harganya terjangkau, dan ketersediaannya konsisten. Pemerintah jangan berubah arah di tengah jalan,” kata Tulus.