Pemerintah menegaskan peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) bukan sinyal krisis, melainkan momentum strategis untuk membongkar kelemahan struktural pasar modal Indonesia.
Gejolak pasar modal yang berujung trading halt setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk lebih dari 8 persen dinilai sebagai sinyal krisis kepercayaan yang jauh lebih dalam dibanding sekadar fluktuasi indeks.
Pasar saham Indonesia diperkirakan akan menghadapi dinamika tajam pada awal perdagangan Senin pekan depan, menyusul rangkaian peristiwa pengunduran diri petinggi lembaga jasa keuangan dan regulator pasar modal.
Pada perdagangan sesi II Rabu (28/1), IHSG melemah 718,44 poin atau turun 8,00 persen ke level 8.261,78 pada pukul 13.43 WIB sehingga BEI terpaksa lakukan trading halt.
Penguatan IHSG salah satunya didorong lonjakan sektor basic material yang naik 2,49 persen ke level 2.389,38, seiring menguatnya saham-saham komoditas emas.
Setelah Senin kemarin juga telah menembus rekor tertinggi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (6/1/2026) ditutup naik 74,41 poin atau 0,84 persen ke level 8.933,61.
IHSG berpeluang lanjut menguat hari ini usai ditutup menguat dan cetak rekor tertinggi. Sinyal teknikal positif dan ekonomi domestik stabil menopang pasar.
IHSG kembali naik menembus rekor tertinggi baru setelah naik 111,06 poin atau 1,27 persen ke level 8.859,19 seiring dengan kondisi ekonomi domestik yang stabil.
Menguatnya IHSG di awal tahun 2026 dirasa perlu dibarengi oleh kebijakan konkret yang berpihak pada sektor rill. Khususnya pengusaha menengah dan UMKM yang dinilai sebagai tulang punggung ekonomi RI.
IHSG ditutup naik 101,19 poin atau 1,17 persen ke level 8.748,13. Sementara, indeks saham unggulan LQ45 turut menguat 5,42 poin atau 0,64 persen ke posisi 852,00.