Meninggal di Bulan Ramadhan, Benarkah Tanda Husnul Khotimah? Begini Penjelasan Ustaz Adi Hidayat
- Ilustrasi AI
Dari sini menjadi jelas bahwa waktu wafat bukanlah satu-satunya indikator kebaikan.
Ukuran utama tetaplah keimanan dan amal saleh yang dikerjakan.

- freepik
Ajal Tidak Bisa Dipilih
Ustaz Adi Hidayat juga mengingatkan bahwa ajal sepenuhnya berada dalam ketetapan Allah SWT.
Manusia tidak bisa memilih kapan ia akan meninggal dunia.
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran, Surah Al-A’raf ayat 34:
“Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.” (QS. Al-A’raf:34)
“Setiap umat punya batas waktu usia maka dia tidak bisa memilih, mau maju mau lambat,” jelas Ustaz Adi Hidayat.
“Apa Anda bisa katakan, ‘Ya Allah kalau boleh tunda sedikit sampai Ramadhan’? Tidak. Ajal bukan seperti pernikahan yang bisa kita rencanakan kemudian bisa Anda tampilkan,” lanjutnya.
Ajal bisa datang kapan saja. Bahkan, satu menit sebelum Ramadhan tiba, seseorang bisa saja dipanggil menghadap Allah SWT.
Karena itu, menggantungkan harapan pada waktu tertentu tanpa memperbaiki amal adalah keliru.

- Ilustrasi AI
Kunci Husnul Khotimah
Lantas, bagaimana agar seseorang bisa meraih husnul khotimah?
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa kuncinya bukan pada kapan wafatnya, melainkan dalam kondisi apa seseorang kembali kepada Allah SWT.
“Jika Anda ingin meninggal dalam keadaan kebaikan, maka tingkatkan amal shaleh. Maka kapanpun Anda kembali pada Allah, Anda akan diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah,” tuturnya.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Fajr ayat 27–30 yang menggambarkan panggilan penuh ketenangan kepada jiwa yang tenang.
“Bagaimana bisa dipanggil dengan tenang? Jika Anda sering mendekatkan diri pada Allah SWT dalam meningkatkan amal shaleh,” tambahnya.
Meninggal di bulan Ramadhan memang terjadi di waktu yang istimewa.
Namun, itu bukan jaminan otomatis sebagai tanda husnul khotimah.
Ukuran sesungguhnya terletak pada iman dan amal saleh yang dilakukan semasa hidup.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan meningkatkan kualitas ketakwaan.
Load more