Gibah di Bulan Ramadhan? Ustaz Adi Hidayat Ungkap Ada Dampaknya pada Puasa Umat Muslim
- dok.ilustrasi freepik
Jakarta, tvOnenews.com- Ada satu kebiasaan buruk umum dilakukan siapapun, yaitu bergosip atau gibah. Tanpa sadar terbawa saat puasa ramadhan.
Saat seseorang gibah umumnya akan marah dan berkata kasar. Sehubungan dengan ini, bagaimana hukum gibah saat puasa ramadhan? berikut penjelasan Ustaz Adi Hidayat.
Mengutip dalam ceramahnya, Ustaz Adi Hidayat atau UAH menjelaskan ada kerugian yang bakal diterima umat muslim jika hobi bergosip atau gibah.

- dok.ilustrasi freepik
Dia menganjurkan marah dan berkata kasar sebaiknya ditinggalkan. Bukan hanya dapat melukai perasaan orang lain, juga bisa merugikan diri.
Hal tersebut disampaikan Hadist Riwayat Al Bukhari di bab Puasa, Nabi SAW berkata,
"Jangan berkata-kata kotor, puasa itu perisai dari hal-hal yang tidak baik. Maka jika berpuasa jangan berkata-kata kotor. Jangan berbuat yang tidak pantas".

- YouTube/Adi Hidayat Official
Ustaz Adi Hidayat pun menegaskan bahwa ada dua hal yang bisa mengurangi pahala puasa.
Pertama, ada yang langsung menggugurkan puasa, disebutkan segala sesuatu langsung membatalkan puasa yaitu makan, sengaja minum, berhubungan suami istri di siang hari batal.
Lalu ada kedua, ini sering terjadi dan jarang diantisipasi, bisa merusak pahala puasa ramadhan 2026 anda yaitu berkata kasar atau kotor.
"Berbuat tidak pantas itu dosa langsung sih tidak cuman membuat orang lain berpeluang dosa, misalnya usia 40 tahun keliling komplek naik sepeda anak 4 tahun dosa enggak tapi orang komplek bertanya itu kenapa dan bersangka buruk ke kita," kata Ustaz Adi, dikutip dari YouTube Adi Hidayat Official, Kamis (19/2).
Dengan begitu, UAH mengingatkan agar umat muslim tidak mencela, berselisih, dusta tidak sekaligus membatalkan puasa melainkan mengurangi pahala puasa ramadhan.
Kebiasaan Mengurangi Pahala Puasa Ramadhan
Dalam ceramahnya, UAH juga mencontohkan, kita puasa Insya Allah mendapat pahala 100 persen tapi ada orang yang saat bersamaan dia mencela, dosanya 50 persen.
Maka ditambah juga berselisih dosanya 50 persen, berdusta dosanya 100 persen, ditambah dengan gosip atau gibah lagi dosanya bertambah 100 persen
"Jadi tadinya dapatnya 100 kurangi 50, 50, 100,100 jadi minus 200. Ini yang dibilang Nabi SAW 'Tidak sedikit dari orang yang berpuasa tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali lapar dan haus saja'," tegas Ustaz Adi Hidayat.
Juga perlu dipahami, dosa ghibah sudah disebutkan dalam firman Allah Ta’ala berikut ini,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)
"Hadist Qudsi lainnya menyebut Allah tidak membutuhkan puasa seseorang yang memperbanyak dosa dalam puasanya," pesan UAH. (klw)
waallahualam
Load more