Tafsir Juz Amma Surat Al-Ghasiyah Penjelasan Ustadz Dr. Firanda Andirja
- Antara
tvOnenews.com — Surat Al-Ghasiyah menjadi salah satu surat istimewa dalam Al-Qur’an. Rasulullah SAW kerap membacanya dalam momen-momen penting, seperti salat Jumat, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Pilihan Nabi membacakan surat ini di hadapan jamaah besar menunjukkan kandungan maknanya yang sangat mendalam dan penting untuk direnungkan bersama.
Dalam kajian tafsir Juz Amma, Ustadz Dr. Firanda Andirja menjelaskan bahwa Al-Ghasiyah adalah surat yang sengaja diperdengarkan Rasulullah SAW agar umat Islam memahami gambaran besar tentang akhirat, azab, dan kenikmatan surga.
- kolase tvOnenews
Makna Al-Ghasiyah: Sesuatu yang Meliputi
Secara bahasa, Al-Ghasiyah berarti “sesuatu yang meliputi”. Para ulama berbeda pendapat mengenai makna istilah ini dalam surat Al-Ghasiyah.
Pendapat pertama menyebut Al-Ghasiyah sebagai salah satu nama neraka, karena api neraka meliputi seluruh tubuh penghuninya.
Allah menggambarkan bagaimana api neraka mengepung manusia dari segala arah, tanpa satu pun bagian tubuh yang selamat.
Pendapat kedua menyatakan Al-Ghasiyah adalah salah satu nama hari kiamat. Hari yang dahsyat itu meliputi seluruh manusia dengan ketakutan dan kengerian, bukan hanya dirasakan oleh orang kafir, tetapi juga oleh para nabi dan orang-orang saleh.
Sementara pendapat ketiga menyebut Al-Ghasiyah sebagai gambaran kondisi para penghuni neraka, yang seluruh hidupnya diliputi kehinaan dan azab.
Menurut Ustadz Firanda, jika dilihat dari konteks ayat-ayat berikutnya, makna yang lebih kuat adalah Al-Ghasiyah sebagai gambaran kondisi penghuni neraka pada hari kiamat.
Wajah-Wajah yang Tunduk dan Letih
Allah berfirman tentang wajah-wajah yang pada hari itu tertunduk dan penuh ketakutan. Mereka adalah orang-orang yang semasa hidup di dunia tidak pernah takut kepada Allah, tidak pernah khusyuk, dan merasa aman dalam kemaksiatan.
Di akhirat, mereka dipaksa tunduk dan merasakan ketakutan yang luar biasa. Allah menggambarkan mereka sebagai ‘amilatun nashibah’—bekerja keras dalam keletihan.
Para ulama menjelaskan makna “bekerja dengan lelah” ini dalam dua tafsiran. Pertama, mereka adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh beramal di dunia, namun amal tersebut tidak diterima karena berada di atas kesesatan.
Load more