Tafsir Juz Amma Surat Al-Qadar dan Al-Bayyinah, Penjelasan Ustadz Dr. Firanda Andirja
- Unsplash/Lexi T
tvOnenews.com — Ustadz Dr. Firanda Andirja melanjutkan pembahasan tafsir Juz Amma dengan mengulas dua surat penting, yakni Surat Al-Qadr dan Surat Al-Bayyinah.
Kedua surat ini memiliki kandungan akidah dan hukum yang sangat mendasar serta banyak dihafal oleh kaum muslimin.
Tafsir Surat Al-Qadr: Makna “Kami Menurunkannya” dan Keagungan Lailatul Qadar, Allah SWT membuka Surat Al-Qadr dengan firman-Nya:
- Tangkapan/Ustaz Firanda Andirja Official
Inna anzalnahu fi lailatil qadr
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.”
Ustadz Firanda menjelaskan, kata “kami” dalam Al-Qur’an tidak menunjukkan bahwa Allah berbilang.
Dalam bahasa Arab, kata tersebut digunakan dalam dua makna, yakni sebagai bentuk pengagungan, atau merujuk kepada para malaikat yang menjalankan perintah Allah.
Hal ini telah dipahami oleh orang-orang Arab Quraisy sejak dahulu dan tidak pernah mereka protes.
Ayat ini juga berkaitan erat dengan turunnya wahyu pertama dalam Surat Al-‘Alaq di Gua Hira, yang menurut para ulama terjadi pada malam Lailatul Qadar.
Allah kemudian menegaskan keutamaan malam tersebut:
Lailatul qadri khairun min alfi syahr
“Malam Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan.”
Menurut Ustadz Firanda, keutamaan ini merupakan karunia khusus bagi umat Nabi Muhammad SAW, mengingat usia umat ini relatif lebih pendek dibanding umat-umat terdahulu.
Dengan Lailatul Qadar, kesempatan beramal umat Islam disetarakan bahkan melampaui mereka.
Mengapa Disebut Lailatul Qadar?
Ustadz Firanda memaparkan tiga makna utama Lailatul Qadar:
Al-Qadr berarti mulia, karena nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Al-Qadr berarti sempit, karena bumi dipenuhi oleh turunnya malaikat.
Al-Qadr berarti takdir, sebab pada malam itu Allah menetapkan takdir tahunan yang akan dijalankan oleh para malaikat.
Pada malam tersebut, malaikat dan Malaikat Jibril turun membawa ketetapan Allah hingga terbit fajar.
Kapan Terjadinya Lailatul Qadar?
Pendapat terkuat para ulama menyatakan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil. Namun, waktunya berpindah-pindah setiap tahun.
Karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir, bukan hanya satu malam tertentu, agar tidak kehilangan keutamaan Lailatul Qadar.
Tafsir Surat Al-Bayyinah: Bukti Nyata Telah Datang
Surat Al-Bayyinah diturunkan di Madinah dan berbicara tentang Ahlul Kitab dan kaum musyrikin. Allah berfirman bahwa mereka tidak akan meninggalkan kekafiran hingga datang kepada mereka al-bayyinah (bukti yang nyata), yaitu Rasulullah Muhammad SAW dengan Al-Qur’an yang suci dan terjaga.
Ustadz Firanda menjelaskan bahwa Ahlul Kitab dibedakan dari musyrikin karena mereka pernah menerima kitab suci sebelumnya, meskipun kemudian terjadi penyimpangan.
Namun, baik Ahlul Kitab maupun musyrikin sama-sama disebut kafir jika menolak kebenaran Islam.
Inti Ajaran Semua Nabi: Tauhid, Salat, dan Zakat
Allah menegaskan bahwa inti ajaran seluruh rasul adalah:
Beribadah hanya kepada Allah dengan ikhlas, menjauhi syirik, mendirikan salat, dan menunaikan zakat.
Inilah agama yang lurus, yang telah diajarkan sejak para nabi terdahulu hingga Nabi Muhammad SAW.
Balasan bagi Orang Kafir dan Orang Beriman
Dalam penutup surat, Allah membedakan dengan tegas antara dua golongan:
Orang kafir dari Ahlul Kitab dan musyrikin mendapat ancaman neraka Jahanam dan disebut sebagai seburuk-buruk makhluk.
Orang-orang beriman dan beramal saleh disebut sebagai sebaik-baik makhluk, dengan balasan surga ‘Adn yang kekal, ridha Allah, dan kebahagiaan abadi.
Ustadz Firanda menegaskan bahwa akhlak mulia tanpa tauhid tidak cukup untuk keselamatan akhirat. Ibadah kepada Allah adalah tujuan utama penciptaan manusia, sementara akhlak adalah buah dari iman yang benar.
Load more