Tafsir Juz Amma: Surat Al-Fajr, Ustadz Dr. Firanda Andirja
- Freepik
tvOnenews.com — Surat Al-Fajr merupakan salah satu surat Makkiyah dalam Al-Qur’an yang terdiri dari 30 ayat. Surat ini diturunkan sebelum Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, sehingga sasaran utama (audiens) ayat-ayatnya adalah kaum musyrikin Arab.
Dalam kajiannya, Ustadz Dr. Firanda Andirja menjelaskan bahwa nuansa surat Makkiyah umumnya menekankan aspek tauhid, keimanan kepada hari akhir, serta peringatan keras terhadap kesombongan dan kekafiran, berbeda dengan surat Madaniyah yang banyak mengatur hukum dan kehidupan sosial kaum beriman.
- Tangkapan layar YouTube Firanda Andirja Official
Makna Sumpah Allah di Awal Surat Al-Fajr
Allah SWT membuka Surat Al-Fajr dengan beberapa sumpah:
- “Wal-fajr” (Demi fajar)
Menurut para ulama, terdapat dua pendapat:
- Demi waktu fajar
- Demi shalat Subuh
Pendapat yang lebih kuat adalah demi waktu fajar, waktu yang sangat istimewa dalam Islam. Fajar menandai kebangkitan manusia dari “kematian kecil” (tidur), menjadi awal aktivitas, waktu dimulainya puasa, dan waktu shalat Subuh yang disaksikan para malaikat.
“Wa layālin ‘asyr” (Demi sepuluh malam)
Para ulama berbeda pendapat mengenai maknanya:
- Sepuluh malam terakhir Ramadan
- Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah
Kedua waktu tersebut sama-sama istimewa. Malam terbaik sepanjang tahun adalah Lailatul Qadar, sedangkan hari terbaik adalah Hari Arafah dan Idul Adha.
“Wasy-syaf’i wal-watr” (Demi yang genap dan yang ganjil)
Sebagian ulama menafsirkan:
- Yang genap: seluruh makhluk ciptaan Allah
- Yang ganjil: Allah SWT, karena Dia Maha Esa dan tidak berpasangan
Ini menegaskan tauhid dan keagungan Allah sebagai satu-satunya Zat yang Maha Tunggal.
“Wal-laili idzā yasr” (Demi malam apabila berlalu)
Sumpah ini menggambarkan pergantian malam dan siang sebagai tanda kekuasaan Allah yang patut direnungi oleh orang-orang berakal.
Peringatan Melalui Kisah Kaum Terdahulu
Setelah rangkaian sumpah, Allah mengingatkan kaum Quraisy melalui kisah kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir’aun—tiga kaum besar yang dikenal kuat, makmur, dan berkuasa, namun dibinasakan karena kesombongan dan kezaliman.
- Kaum ‘Ad dihancurkan dengan angin yang sangat dahsyat selama tujuh malam delapan hari
- Kaum Tsamud dibinasakan meski mampu memahat gunung menjadi rumah
- Fir’aun ditenggelamkan meski memiliki kekuasaan dan pasukan besar
Pesan Allah jelas: kekuatan, teknologi, dan kekayaan tidak mampu menyelamatkan seseorang dari azab jika ia kufur dan sombong.
Kesalahan Pola Pikir Manusia tentang Kekayaan
Allah membantah anggapan bahwa:
- Kekayaan = kemuliaan
- Kemiskinan = kehinaan
Kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari harta, melainkan ketakwaan. Orang kafir dicela karena:
- Tidak memuliakan anak yatim
- Tidak peduli pada fakir miskin
- Rakus terhadap harta warisan
- Terlalu mencintai dunia
Penyesalan di Hari Kiamat
Pada hari kiamat, manusia akan menyesal atas amalnya. Bahkan orang beriman pun menyesal karena merasa kurang beramal saleh. Namun penyesalan itu sudah tidak bermanfaat.
Neraka Jahannam didatangkan, dan manusia baru menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
Penutup: Jiwa yang Tenang (An-Nafsul Muthmainnah)
Allah menutup Surat Al-Fajr dengan kabar gembira bagi orang beriman:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Ini adalah panggilan mulia bagi jiwa yang:
- Tenang dengan iman
- Yakin pada janji Allah
- Tidak terikat berlebihan pada dunia
- Berserah diri kepada takdir Allah
Load more