Teks Khutbah Jumat 7 November 2025 Singkat Padat: Para Nabi Itu Pejuang Kemerdekaan yang Hakiki
- Pexels/David McEachan
tvOnenews.com - Di tengah semangat bangsa jelang peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 2025, khutbah Jumat kali ini mengingatkan bahwa sejatinya para Nabi adalah pejuang kemerdekaan yang sesungguhnya.
Namun, bukan kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain, melainkan pembebasan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT.
Berikut teks khutbah Jumat jelang Hari Pahlawan 2025, berjudul 'Para Nabi Itu Pejuang Kemerdekaan yang Hakiki' dilansir dari pabrikjammasjid.com.
Khutbah Pertama
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Kita memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, serta bersyukur atas nikmat iman dan Islam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Tema khutbah kali ini mengajak kita merenungkan perjuangan para Nabi sebagai sosok pembawa kemerdekaan sejati. Nabi-nabi Allah tidak berjuang untuk membebaskan wilayah kekuasaan, melainkan membebaskan hati dan pikiran manusia dari kesesatan dan penindasan.
Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad SAW, misalnya, berjuang melawan bangsanya sendiri yang menolak kebenaran. Sementara Nabi Musa ‘alaihi salam berhadapan dengan Firaun untuk membebaskan Bani Israil dari perbudakan dan penindasan.
- Unsplash/Rumman Amin
Kemerdekaan yang dibawa para Nabi bukanlah nasionalisme, melainkan pembebasan akidah dan akhlak umat manusia. Nabi Nuh ‘alaihi salam selama 950 tahun berdakwah agar kaumnya meninggalkan penyembahan berhala. Namun hanya sedikit yang mengikuti seruannya. Allah SWT berfirman:
وَقَالُوْا لَا تَذَرُنَّ اٰلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَّلَا سُوَاعًا ەۙ وَّلَا يَغُوْثَ وَيَعُوْقَ وَنَسْرًاۚ
Artinya: Mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhanmu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwā‘, Yagūṡ, Ya‘ūq, dan Nasr.’ (QS. Nuh:23)
Begitu pula Nabi Luth ‘alaihis salam yang berjuang membebaskan kaumnya dari perilaku menyimpang. Allah SWT berfirman:
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ
Artinya: Dan (Kami juga telah mengutus) Luth kepada kaumnya...” (QS. Al-Araf: 80–83)
Nabi Syu’aib ‘alaihis salam pun menyeru kaumnya agar jujur dalam berdagang dan meninggalkan penyembahan berhala. Allah berfirman:
فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ**
Artinya: “Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia...” (QS. Al-A’raf: 85)
Dari kisah para Nabi ini, kita belajar dua hal besar tentang makna kemerdekaan sejati:
1. Merdeka dalam akidah, membebaskan manusia dari penyembahan kepada makhluk menuju penyembahan kepada Allah semata.
2. Merdeka dalam akhlak, membebaskan diri dari hawa nafsu dan perilaku yang merusak martabat manusia.
Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)
Rasulullah SAW pun menegaskan:
بُعِثتُ لأُتَمِّمَ صالِحَ الأخْلاقِ**
Artinya: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan Al-Bukhari)
- Pexels/Mohammed Alim
Khutbah Kedua
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sepertiga isi Al-Qur’an berisi kisah para Nabi yang sarat pelajaran, terutama tentang perjuangan mereka dalam memerdekakan umat. Salah satu kisah terbesar adalah perjuangan Nabi Musa ‘alaihis salam melawan Firaun. Tanpa pasukan dan kekuatan duniawi, beliau berani menegakkan kebenaran dengan iman dan tawakkal hingga akhirnya Allah menenggelamkan Firaun di laut.
Namun, tak ada perjuangan yang lebih agung daripada perjuangan Nabi Muhammad SAW. Beliau memulai dakwah sendirian, menghadapi penentangan, boikot, hingga hijrah. Dalam 23 tahun, Rasulullah SAW berhasil membebaskan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam — dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT.
Sejarah mencatat, perjuangan Nabi SAW melahirkan masyarakat berakidah lurus, berakhlak mulia, dan berperadaban tinggi. Tak heran jika Michael H. Hart dalam bukunya *“The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History”* menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah manusia.
Dari seluruh kisah tersebut, kita memahami bahwa kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari penjajahan, melainkan bebas dari belenggu hawa nafsu, kesesatan, dan penyimpangan moral. Para Nabi adalah teladan abadi dalam memperjuangkan kemerdekaan hati, akal, dan iman.
Semoga khutbah ini menjadi pengingat agar kita terus meneladani perjuangan para Nabi, membebaskan diri dari dosa dan memperjuangkan kemerdekaan spiritual di jalan Allah SWT.
(gwn)
Load more