Sakit Kok Beralasan Tak Puasa Ramadhan, Buya Yahya Ingatkan hanya 9 Golongan ini yang Boleh
- Tangkapan Layar YouTube Al-Bahjah TV
tvOnenews.com - Puasa Ramadhan adalah ibadah terpenting bagi umat Muslim, menahan hawa nafsu yang wajib dilakukan selama bulan suci Ramadhan.
Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang hukumnya wajib. Buya Yahya menyoroti bagi orang sakit menjadi alasan tidak mengerjakan amalannya.
Buya Yahya mengatakan tidak sedikit orang sedang sakit namun sengaja tak puasa Ramadhan, memungkinkan mereka tetap menyantap makanan dan minuman di waktu berpuasa.
Bagi Buya Yahya, ada sembilan golongan yang tidak diwajibkan puasa Ramadhan. Lantas, siapa saja mereka? Menurutnya, golongan pertama adalah anak kecil.
"Memaksa halus, jangan memaksa kasar. Jadi kasih motivasi, kasih hadiah, namanya puasa bedug," ungkap Buya Yahya dilansir dari kanal YouTube Al-Bahjah TV, Rabu (12/2/2025).

- iStockPhoto
Anak kecil belum baligh masuk dalam golongan yang tidak diwajibkan puasa, namun jika tetap ingin berpuasa sangat boleh walaupun sifatnya tak memaksa dan orang tua mengajarkan mereka ketika menginjak usia 7 tahun.
Anak kecil masih membutuhkan asupan makanan dan minuman yang bergizi. Hal ini berguna untuk kesehatan pada tubuhnya.
Buya Yahya mengatakan golongan selanjutnya terletak pada orang gila. Maksudnya, orang yang tidak berakal tak diwajibkan menjalankan ibadah puasa.
Orang berpuasa, kata dia, setidaknya memiliki akal sehat, untuk menyempurnakan ibadahnya pada bulan suci Ramadhan.
Tujuan berpuasa adalah bagaimana menahan hawa nafsu, bahkan diperintahkan agar menjauhi sifat-sifat dan perbuatan yang mengarah kemaksiatan.
"Makanya orang yang tidak mau berpuasa, jadilah orang gila, tidak wajib berpuasa," terang dia.
Ia mengatakan orang sakit dan telah uzur memang tidak diwajibkan berpuasa.
Redaksi dari Surat Al Baqarah Ayat 184 mengarah sebagai dalil Al Quran bagi orang sakit tidak wajib puasa Ramadhan, Allah SWT berfirman:
اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗوَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗوَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Artinya: "(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al Baqarah, 2:184)
Ia merasa heran mengapa orang sakit, otomatis tidak berpuasa. Padahal tidak masuk golongan penyakit yang terhitung berat.
"Lalu sakit, sakit apa yang tidak wajib berpuasa? yaitu sakit yang membahayakan, yang memberatkan ketika berpuasa," jelasnya.
Menurut pengasuh LPD Al Bahjah itu, sakit yang ringan sebaiknya tetap berpuasa Ramadhan, walaupun harus tertatih-tatih.
"Menurut siapa sakitnya? menurut dokter dan menurut dirinya sendiri. Ini adalah urusan pribadi, jangan berbohong dengan Allah," paparnya.
Kemudian, Buya Yahya membahas orang yang tidak wajib puasa Ramadhan untuk kalangan ibu-ibu, terutama tengah mengandung dan memberikan ASI untuk anak bayinya.
"Kelima dan keenam adalah orang hamil dan menyusui, satu pasang juga, tujuh delapan adalah orang haid dan nifas," tuturnya.
Pendakwah kelahiran asal Blitar itu memahami betul orang hamil bahkan menyusui, sangat menguras energi dan tubuhnya lemas.
"Maka kalau ada orang hamil dan menyusui kalau membebani ya tidak masalah tidak berpuasa, biar pun dia menyusui anaknya atau menyusui hewan ternaknya, tetap boleh tidak berpuasa," bebernya.
"Ada pula haid dan nifas, orang haid diharamkan berpuasa, dan terakhir orang bepergian, dengan tujuan mencapai 80 kilometer, dia boleh berpuasa atau tidak, karena musafir," tandasnya.
(hap)
Load more